Ia juga pernah berdiri di tengah-tengah jalan by pass Arjawinangun untuk menabrakkan diri ke mobil yang melintas. Upaya itu juga gagal karena keluarga dan aparat desa berhasil membawanya pulang ke rumah. Yang lebih ekstrem di 2017. Saat itu nekat merobek perut sendiri menggunakan arit. Tak hanya itu saja, juga nekat melukai alat kelamin.
Akibat tindakannya ketika itu, ia dilarikan ke Rumah Sakit Sumber Waras Ciwaringin dan dirawat selama satu minggu. “Sempat dirawat di Rumah Sakit Sumber Waras Ciwaringin selama seminggu karena merobek perutnya sendiri dan memotong kemaluannya. Kami gak mau tanya kenapa nekat begitu. Karena khawatir nyakitin hatinya. Jadi sampai sekarang kami gak tahu dia punya keinginan apa,” ujar M.
Setelah peristiwa itu, banyak keluarga yang mendukung S agar sembuh. Dengan berobat jalan. Secara perlahan, ia dinyatakan sembuh. Bahkan dari tahun 2018 mulai melaksanakan aktivitas seperti sedia kala. Termasuk bekerja pada salah satu pabrik. S mulai bermain dengan teman dan kerabatnya. Ia tidak lagi melakukan tindakan yang aneh lagi.
Namun, pada Juni 2020, ia diduga kembali mempelajari ilmu gaib. Dia berpuasa seminggu tanpa makan dan tidur. Dari situlah, mulai kambuh lagi. Hingga akhirnya pada Rabu (8/7) harus menjalani perawatan medis di RSUD Arjawinangun dengan dugaan mengalami gangguan jiwa. Dalam proses perawatan itulah, S mengakhiri hidup dengan gantung diri.
Sementara itu, hingga kemarin pihak RSUD Arjawinangun belum merespons upaya konfirmasi Radar Cirebon. Direktur RSUD Arjawinangun Bambang Sumardi tak memberikan jawaban.
Sedangkan Kapolsek Arjawinangun Kompol Sukhemi membenarkan adanya pasien RSUD Arjawinangun yang meninggal karena gantung diri. “Benar, korban gantung diri di RSUD Arjawinangun. Dia dirawat karena sakit saraf. Dirawat di ruang khusus. Intinya keluarga sudah menerima, ini karena takdir. Keluarga juga tidak menuntut,” kata kapolsek. (cep)
Pasien Gantung Diri di Ruang Perawatan RSUD Arjawinangun
