MAJALENGKA – Bupati Majalengka Dr H Karna Sobahi MMPd mengaku sedang mengkaji opsi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini terkait peningkatan kasus terkonfirmasi positif di Kabupaten Majalengka selama 12 hari terakhir.
“Iya itu menjadi kajian kami. Ini demi kepentingan perlindungan masyarakat luas Majalengka,” kata bupati, kemarin.
Karna mengaku, baru mengeluarkan keputusan yang isinya peningkatan pengawasan penggunaan protokol kesehatan (pemberlakuan sanksi bagi yang tidak memakai masker), cuci tangan, jaga jarak di tempat umum, kantor, pasar dan tempat peribadatan. Kemudian, pihaknya juga akan memperketat izin keramaian dan menutup objek wisata.
Sementara itu, Direktur RSUD Cideres dr H Asep Suandi M EPid mengungkapkan, lonjakan jumlah kasus di kota angin, harus dilakukan upaya tracing yang baik dan melakukan swab masal dengan jumlah 0,5 persen jumlah penduduk Majalengka. Nantinya, akan terlihat kondisi secara utuh. “Yang kemarin-kemarin hanya terlihat puncaknya saja. Yang sakit butuh perawatan kita rawat, dan yang tanpa gejala kita isolasi mandiri yang ketat,” kata dia.
Dia mengajak semua pihak untuk patuh kepada anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan covid-19 dan penerapannya di setiap sektor. Pasalnya, bila tidak begitu, semua upaya yang dilakukan pemerintah tidak akan membuahkan hasil dalam memutus mata rantai penularan covid-19 ini.
Terpisah, Direktur RSUD Majalengka, dr H Harizal Harahap sangat setuju pendapat direktur RSUD Cideres. Ia berpendapat, yang diperlukan sekarang adalah bagaimana menemukan masyarakat yang sudah terkonfirmasi covid-19 dan langsung mengisolasinya.
Jika ada yang baru datang dari luar daerah, terutama dari zona hitam atau merah, segera langsung karantina mandiri. Pantau terus status kesehatannya. Perhatikan kebutuhan hidupnya.
“Ini perlu kerja sama yang luar biasa dari berbagai pihak. Kemudian jika ada yang ditemukan confirmed (+) pada orang sakit, isolasi dan terapi di RS. Tracing dan periksa seluruh kontak,” jelasnya.
Di samping itu, temukan sebanyak mungkin confirmed (+) yang asimptomatis (tidak bergejala) di masyarakat, dengan cara lakukan sebanyak mungkin pemeriksaan Swab PCR masal. Jika ditemukan, maka langsung karantina mandiri. Selain itu, juga mencegah semua kegiatan yang berpotensi membuat kerumunan masyarakat. Karena saat ini, semua berhadapan dengan dua musuh besar, yaitu covid-19 dan orang-orang dengan “Covidiot”. Yakni orang-orang yang acuh atau tidak peduli dengan covid-19. Malah percaya bahwa covid ini adalah rekayasa untuk menguntungkan tenaga medis, RS, bahkan pemerintah.
Kaji Opsi Penerapan PSBB
