Sejak adanya pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang mengeluh anggaran rumah tangga menjadi kacau. Masyarakat harus menyesuaikan kembali keuangannya dengan memperhatikan banyak hal.***PADA awalnya, banyak orang yang menganggap dengan melakukan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dan belajar dari rumah akan menghemat pengeluaran. Seperti untuk transportasi, hiburan atau sekadar makan di luar rumah.
Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Bekerja dan belajar dari rumah justru membuat kebutuhan lain semakin meningkat.
Hal ini juga diperparah dengan kondisi ekonomi yang kurang bersahabat. pelaku UMKM sepi pembeli. Sementara pengusaha besar juga mengalami penurunan omset yang membuatnya harus memutar otak agar usahanya tetap menghasilkan cuan.
Perubahan pola keuangan rumah tangga terjadi karena aktivitas selama di rumah saja. Di mana kebutuhan rumah tangga seperti internet, air, listrik dan gas jadi meningkat karena intensitas di rumah menjadi lebih sering.
Salah seorang ibu rumah tangga, Nur Yanti (35) mengatakan, bahwa meningkatnya tagihan bulanan yang tiba tiba tersebut membuat dirinya menyadari bahwa pandemi Covid-19 telah mempengaruhi pola keuangannya.
Dengan penghasilan yang hanya sekitar Rp5-6 juta perbulan, dirinya mengaku harus memutar otak lebih keras supaya kondisi keuangan selama adanya pandemi.
“Pas awal bulan Juli kemarin kan, tagihan listrik dan air naik. Tidak tahu apakah memang penyebabnya karena selama di rumah konsumsinya memang naik atau karena ada kenaikan sepihak. Tapi itu bikin saya berfikir kalau untuk pengeluaran, harus benar benar di-rem,” ungkap warga Harjamukti Kota Cirebon tersebut.
Selain harus memikirkan tagihan bulanan untuk konsumsi rumah tangga, Nur Yanti juga harus tetap menyisihkan keuangan untuk bidang pendidikan dan kesehatan.
Di samping biaya pendidikan pokok yang meliputi pendaftaran, keperluan seragam dan sebagainya, Yanti yang mempunyai 2 orang anak kelas 5 dan 1 SD tersebut juga terpaksa harus menyisihkan lebih banyak uang untuk internet selama proses pembelajaran jarak jauh.
Dia tidak mau proses belajar anaknya terganggu karena perkara internet yang tidak jalan gara gara kehabisan kuota. “Kalau dulu kan kalau pulsanya habis, tidak terlalu pusing memikirkan harus membeli kuota lagi. Kalau sekarang, kuota harus tetap tersedia. Karena setiap hari harus tetap absen ke guru gurunya,” keluhnya.
ATUR DUIT DI MASA SULIT
