CIREBON – Polemik perebutan kekuasaan di internal Keraton Kasepuhan, ternyata tak mengganggu rencana prosesi jumenengan atau penobatan Sultan Sepuh XV. Prosesi jumenengan akan dilakukan pada 40 hari usai masa berkabung pasca meninggalnya Sultan Sepuh XIV.
Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat, adik kandung alm Sultan Arief Natadiningrat mengonfirmasi bahwa prosesi jumenengan akan tetap dilakukan. Meskipun hingga saat ini, situasi di keraton sedang didera dualisme. Usai keturunan Sultan Sepuh XI, Raharjo Djali melakukan ikrar sebagai polmak atau pejabat sementara Kesultanan Kasepuhan beberapa waktu lalu.
“Nanti akan ada rapat panitia. Panitianya sendiri sudah disusun,” ungkapnya saat dihubungi Radar Cirebon, Senin (10/8) kemarin.
Namun demikian, pihaknya mengaku belum bisa menginformasikan lebih banyak terkait dengan bagaimana prosesi jumenengan akan dilakukan. “Nanti akan kami infokan kepada teman-teman media,” ucap direktur pengelola Keraton Kasepuhan tersebut.
Sebelumnya, Putera Mahkota Keraton Kasepuhan, PRA Luqman Zulkaedin membeberkan tradisi pergantian kepemimpinan dalam Kesultanan Kasepuhan. Ketika sultan mangkat, maka secara otomatis penerus dan tanggung jawab kepemimpinan dilanjutkan kepada putera mahkota yang telah ditetapkan.
“Penobatan biasanya dilakukan 40 hari setelah Sultan Sepuh sebelumnya mangkat. Tapi kepemimpinan, secara otomatis jatuh kepada putra mahkota. Penobatan hanya sebagai bentuk syukuran saja,” saat dihubungi oleh Radar Cirebon.
Luqman menyebutkan, Keraton Kasepuhan Cirebon telah menjalankan adat dan tradisinya sejak ratusan tahun yang lalu. Termasuk hal pergantian/suksesi sultan. Di mana pengukuhannya disematkan kepada Putera Mahkota oleh sultan yang masih bertakhta.
“Dalam hal ini, putera mahkota PRA Luqman Zulkaedin telah ditetapkan sebagai putera mahkota oleh Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon pada 30 Desember 2018,” bebernya. (awr)
Tak Mengganggu Rencana Penobatan PRA Luqman
