Karpet motif mega mendung yang terpasang di ruang rapat paripurna DPRD Kota Cirebon, mendadak viral. Sejumlah budayawan dan warga geram, karena menilai motif mega yang seharusnya dihormati dan menjadi identitas budaya Cirebon, justru dijadikan alas dan diinjak tiap hari.AZIS MUHTAROM-NURVIA PAHLAWANITA, CirebonSEJARAWAN Cirebon Mustaqim Asteja mengatakan, mengekspos atau mengenalkan tentang seni dan sejarah di daerah itu sangatlah penting. Namun, jangan salah dalam penerapan, sehingga menjadi bahan tertawaaan orang.
“Kami menyayangkan tempat posisi pemasangan motif tersebut tidak tepat. Mestinya, mega mendung punya nilai filosofis yang luhur. Adanya di kahyangan, di atas, menggambarkan rahmat dari langit yang tinggi,” ujarnya, kemarin.
Mestinya, wakil rakyat ketika hendak mengaplikasikan simbol-simbol kebudayaan Cirebon, dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan para budayawan, agar tidak terjadi kekeliruan yang fatal seperti saat ini.
Senada, Budayawan Cirebon Jajat Sudradjat mengungkapkan, mega mendung merupakan simbol pengharapan dan cita-cita yang luhur dari masyarakat Cirebon. Dia menilai, motif mega mendung akan lebih tepat jika diaplikasikan pada dinding atau atap, tidak pantas ditaruh di bawah.
Dia menceritakan, motif tersebut diciptakan oleh Panembahan Losari yang merupakan cicitnya Sunan Gunung Jati. Banyak karya yang dibuatnya. Salah satunya yang sangat fenomenal adalah Kereta Singa Barong.
Terpisah, Maestro Batik Cirebon, Katura AR menyampaikan, filosofi batik mega mendung memiliki arti yang paling tinggi. Merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna. Sehingga penggunaan motif mega mendung sebaiknya dijaga dengan baik, dan ditempatkan sebagaimana mestinya.
“Motif mega mendung memiliki arti untuk mendinginkan suasana, adem ayem. Mega mendung ini kastanya tinggi, kita harus bisa menghormatinya. Bisa menghormati karya yang membuatnya,” ungkapnya.
Katura AR si pemilik nama dengan arti Kerajinan Asli Trusmi Untuk Rakyat Anak ke Rolos ini pun menyampaikan, kurang setuju bila motif batik mega mendung dijadikan karpet. “Kurang setuju. Pernah ada motif batik dibuatkan sandal, dan sekarang karpet. Solusinya dicopot atau dilepas saja kalau sudah telanjur dipasang,” tuturnya.