Yang Berbeda dari Tradisi Jamasan Keraton Kasepuhan Tahun Ini

okri- cuci benda pusaka (1)
PENCUCIAN PUSAKA: Para petugas memandikan pusaka peninggalan Pangeran Cakrabuana pada acara Jamasan di Keraton Kasepuhan, kemarin. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
0 Komentar

Momen 1 syuro dalam penanggalan Aboge di Keraton Kasepuhan, diperingati dengan tradisi Jamasan atau pencucian benda-benda pusaka. Namun, jamasan kali ini berbeda dari biasanya. Tiap tahun rutin dilaksanakan tanggal 1-10 syuro. Tetapi, karena pandemi covid-19, hanya dilakukan tiga hari tertentu saja.AZIS MUHTAROM, CirebonLURAH Keraton Kasepuhan, Muhamad Maskun menerangkan, tradisi jamasan tahun ini, terbilang agak berbeda dari tahun-tahun biasanya. Selain disebabkan pandemi covid-19, juga kondisi dan dinamika yang terjadi di internal keraton. Sehingga, hanya dilakukan tiga hari saja.
“Karena sekarang pandemi, masih dalam berkabung, dan adanya gerakan-gerakan yang membuat tidak kondusif  serta mengganggu Keraton Kasepuhan, maka hanya dilakukan tiga hari saja. Karena kita khawatir, makanya tahun sekarang menjamas pusaka yang tua-tua saja,” bebernya kepada Radar, kemarin.
Tiga hari yang dipilih adalah Jumat (21/8) yang menurut penanggalan aboge merupakan 1 syuro tahun Jim Ah Ge. Benda pusaka yang ada di museum Keraton Kasepuhan yang dijamah juga diprioritaskan yang umur dan historisnya paling tua.
“Yang hari ini dijamas hanya pusaka lama zaman Galuh Pakuan sampai zaman Pajajaran. Yang dibawa langsung peninggalan Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang. Hanya 3 lemari kaca saja yang masing-masing berisi belasan hingga puluhan item,” ujarnya.
Kemudian, jamasan juga akan diagendakan pada 5 syuro, atau Selasa 24 Agustus mendatang. Dilakukan terhadap Kereta Kencana Pusaka Singa Barong. Dan ritual penutupnya akan dilakukan 10 syuro ditandai dengan pembuatan bubur syuro.
Menurutnya, pembatasan hari dan jumlah benda pusaka yang dicuci dengan tradisi kemarau ini, tidak mengurangi keharusan, dan ketentuan tradisi yang sudah dilakukan sejak masa awal berdirinya Keraton Kasepuhan.
“Yang penting ada tradisi yang dilaksanakan. Sisanya perawatan rutin. Tiap hari Selasa dikontrol dan kalau terlihat ada yang berdebu atau agak kotor, kita bersihkan,” tuturnya.
Kepala Bagian Adat Tradisi Keraton Kasepuhan, Elang Haryanto menjelaskan, tradisi jamasan dimulai dengan doa bersama oleh keluarga dan para pemangku tradisi. Satu per satu benda pusaka yang akan dimandikan, dikeluarkan dari lemari penyimpanan kaca.

0 Komentar