KUNINGAN-Sebuah sarang tawon berukuran besar yang berada di area belakang gedung SMAN 1 Cigugur, membuat proses belajar mengajar terganggu dan menimbulkan kepanikan.
Dua pelajar bahkan harus mendapatkan perawatan medis setelah tersengat tawon, sehingga pihak sekolah segera meminta bantuan UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kuningan.
Kepala UPT Damkar Kuningan Andri Arga Kusumah menjelaskan, bahwa laporan diterima setelah guru di sekolah mengkhawatirkan keselamatan para siswa.
Baca Juga:Harlah ke-58 KOPRI PMII Majalengka: Perempuan Kuat untuk Indonesia HebatKaryawan XLSMART Lakukan Aksi Sosial, Salurkan Bantuan Beras dan Bangun Sarana Air Bersih
“Sarang tawon ini cukup besar dan letaknya di belakang sekolah. Karena sering mengganggu kegiatan belajar, beberapa siswa sempat melempari sarang tersebut dengan batu. Akibatnya, tawon menjadi agresif dan dua siswa mengalami luka hingga harus dibawa ke rumah sakit,” ungkap Andri Arga Kusumah, Jumat (28/11).
Mendapat laporan tersebut, Damkar Kuningan segera menerjunkan empat personel lengkap dengan satu unit kendaraan dinas untuk melakukan operasi penanganan. Proses evakuasi sarang tawon berlangsung sekitar 30 menit, dengan metode pengamanan standar agar tidak menimbulkan serangan lanjutan.
“Penanganan harus dilakukan cepat, karena jika dibiarkan, potensi ancaman terhadap siswa dan warga sekitar sangat tinggi. Tawon jenis ini memiliki sifat agresif ketika terusik,” ungkapnya.
Dia menyebut, dua pelajar asal Desa Cileuleuy mengalami luka sengatan, namun kini sudah mendapatkan perawatan medis. Pihak sekolah mengapresiasi respons cepat Damkar, yang telah mengamankan lingkungan belajar dari potensi bahaya.
Pihaknya mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memprovokasi tawon, seperti melempari sarangnya, dan segera melapor apabila menemukan ancaman serupa.
“Keselamatan warga adalah prioritas kami. Laporkan segera, jangan bertindak sendiri karena risikonya sangat besar,” pungkasnya. (ags)
