MAJALENGKA — Korps PMII Puteri (KOPRI) Cabang Majalengka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-58 dengan menggelar rangkaian agenda refleksi terkait isu strategis perempuan, lingkungan, dan pendidikan.Acara yang berlangsung di Rumah Joglo Sholawat, Komplek Lazisnu Majalengka, itu dihadiri ratusan kader PMII dan sejumlah tokoh daerah.
Kegiatan dibuka secara khidmat dengan pembacaan Sholawat Nariyah sebanyak 41 kali yang dipimpin Ketua Mabincab PMII Majalengka, KH Abdul Rosyid. Hadir pula Wakil Bupati Majalengka, Dena Muhammad Ramdhan; Ketua IKA PMII Majalengka, Fajar Shidik; serta Komisioner KPU Majalengka yang juga alumni KOPRI, Nia Nazmiatun.
Perayaan Harlah kali ini mengusung tema “Perempuan Kuat, Indonesia Hebat”, yang menekankan penguatan peran perempuan sebagai pilar perubahan sosial. Ketua KOPRI PMII Majalengka, Santy Hernawati, menegaskan bahwa momentum Harlah bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang konsolidasi gerakan perempuan.
Baca Juga:Karyawan XLSMART Lakukan Aksi Sosial, Salurkan Bantuan Beras dan Bangun Sarana Air BersihFUA UINSSC Jalin Kerja Sama Akademik dan Sosialisasi PJJ dalam Lawatan ke ICESCO Malaysia
“Kita menguatkan kembali peran perempuan PMII untuk senantiasa digdaya, berdaya, dan memberi kemanfaatan bagi peradaban,” ujar Santy.
Menurutnya, perempuan memegang posisi strategis dalam pembangunan berkelanjutan dan harus hadir dalam ruang-ruang pengambilan kebijakan.
Setelah sesi refleksi, kegiatan dilanjutkan dengan KOPRI Ecomovement, yakni penanaman pohon sebagai simbol komitmen terhadap kelestarian lingkungan, terutama terkait isu perubahan iklim dan perkembangan industrialisasi di Majalengka.
Santy menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian perempuan terhadap keberlanjutan bumi.“Menanam pohon bukan sekadar aksi ekologis, tetapi gerakan keberlanjutan masa depan. Ini simbol bahwa perempuan KOPRI hadir menjaga bumi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam proses kebijakan publik. “Kebijakan politik masih didominasi perspektif laki-laki, padahal kebutuhan perempuan paling dipahami oleh perempuan sendiri,” ujarnya.
Ketua PMII Majalengka, Muflih Nastain, turut menyoroti urgensi perlindungan perempuan dan anak di sektor pendidikan.
Ia menyebut masih banyak kasus kekerasan, pelecehan, dan diskriminasi yang belum tertangani optimal oleh sistem pengawasan sekolah.
Baca Juga:XLSMART Gelar RUPSLB, Setujui Pembagian Tambahan Dividen Rp2,89 TriliunSambut Hari Guru Nasional, Grup Harumba Juara Masak Antarguru SDN Bima
“Kebijakan perlindungan perempuan dan anak perlu ditinjau ulang, termasuk pembentukan satgas perlindungan di setiap lembaga pendidikan. Ini penting agar tidak ada lagi anak perempuan putus sekolah akibat pelecehan atau kekerasan seksual,” tegasnya.
