RADARCIREBON.ID- Peristiwa memilukan ini terungkap secara kebetulan. Kakak korban iseng memeriksa telepon genggam. Di sana ditemukan percakapan mencurigakan dengan terduga pelaku.
Korban berinisial A itu kemudian diinterogasi. Karena adanya bukti percakapan WhatsApp (WA), korban akhirnya menceritakan peristiwa tersebut.
Terungkap bahwa pelaku berinisial KV memanfaatkan kerentanan korban. Modusnya adalah pengancaman. KV meminta A mengirimkan foto pribadi.
Baca Juga:Di Cirebon, Wakil Ketua SPPI Sebut MBG adalah Terobosan Besar untuk Meningkatkan Kualitas Gizi PelajarWalikota Cirebon Gelar Mutasi Lagi: Ini Hasil Seleksi, Tak Ada yang Bayar
Ancaman KV sangat menakutkan bagi remaja usia SMP seperti A. KV mengancam akan memviralkan informasi. Ia akan menyebarkan ke orang tua dan teman sekolah. Isinya: mereka pernah berhubungan badan.
Karena ketakutan, siswi kelas 2 SMP itu menuruti permintaan KV. Ia mengirim foto pribadinya. Ironisnya, ancaman itu tetap diwujudkan. Foto-foto pribadi itu disebar oleh KV melalui WA ke teman-teman sekolah. Informasi itu bahkan sampai ke telinga guru-guru di sekolah.
​Dampak perbuatan KV sangat parah. Orang tua korban dipanggil ke sekolah. Pihak sekolah menghadapi situasi dilematis. Mereka memberikan pilihan sulit. Sang anak bisa keluar atau pindah sekolah, atau tetap lanjut menempuh pendidikan di sana.
Risikonya sangat besar. Korban harus menghadapi perundungan (bullying) karena foto telanjur tersebar. Orang tua memilih untuk menguatkan mental anaknya dan memutuskan sang anak tetap lanjut sekolah. “Saya pilih lanjut, tidak keluar atau pindah sekolah,” kata DS, ibu korban.
Sekolah dinilai masih bisa menerima dan membimbing mental korban. ​Namun, DS menyebutkan, ada satu korban lain yang tidak sekuat anaknya. Korban kedua memilih mengundurkan diri. Ia putus sekolah karena menanggung malu dan trauma. Orang tua korban kedua itu disebut enggan melapor ke polisi.
​Peristiwa yang menimpa A memukul telak kondisi sang ibu. DS, ibu rumah tangga, tidak kuasa menahan kesedihan. Ia harus menanggung beban mental sangat berat. ​Pasca kejadian, DS sampai harus dirujuk ke rumah sakit sebanyak dua kali.
Ia sering drop. Kondisi ini menguras fisiknya. Setelah diperiksa lebih lanjut, DS divonis menderita pembengkakan jantung. “Sebulan dua kali saya masuk rumah sakit setelah kejadian ini. Sering sakit kepala dan tidak sadar karena drop,” kata DS, ditemani suaminya IS, Kamis (27/11/2025).
