Perlahan Berubah Wajah, Sukalila-Kalibaru Mulai Rapi, Pedagang Masih Menepi

Perlahan Berubah Wajah, Sukalila-Kalibaru Mulai Rapi
PEMBENAHAN: Penataan bantaran Sungai Sukalila hingga Kalibaru terus berjalan. Pantauan pada Jumat (19/12/2025), sungai kembali terlihat. Pepohonan juga kembali mendominasi dan ruang publik mulai terbuka. Foto: Seno Dwi Priyanto/Radar Cirebon
0 Komentar

“Kalau untuk non makanan dan minuman, yaitu pigura dan sebagainya, kita ada slot 117 los. Sampai saat ini yang sudah mendaftar itu baru tiga pedagang,” kata Winda kemarin.

Ironisnya, ketiga pedagang itu pun bukan pedagang pigura dari Sukalila. Satu pedagang sol sepatu. Satu pedagang aksesori. Satu lagi pedagang name tag. Itupun masih pikir-pikir. “Kalau yang dari pigura, belum ada yang mendaftar,” tegasnya.

Berbeda dengan pedagang makanan dan minuman. Dari 26 los yang disediakan di lantai bawah Pasar Pagi, semuanya sudah terisi. Penuh. Beberapa bahkan sudah mulai membangun lapak. Siap berjualan. Winda memahami kegamangan pedagang pigura. Ia menyebut, keluhan utama pedagang adalah soal ukuran lapak dan potensi pembeli.

Baca Juga:Dua Hari Pasca Penertiban Sukalila-Kalibaru, Kawasan Tersebut Mulai MerubahAyah dan Anak di Cirebon Terima SK PPPK Paruh Waktu Bersamaan

“Kami hanya menyiapkan lahan. Pedagang membangun sendiri. Ukurannya ada yang 3×2 meter, ada juga 2,4×2,5 meter. Tidak dikenakan sewa selama satu tahun. Retribusi pun baru dipungut setelah Lebaran, April 2026,” jelasnya.

Menurut Winda, pedagang yang mendaftar langsung mendapatkan nomor los melalui undian. Setelah itu, mereka bisa langsung membangun lapaknya masing-masing.

Namun insentif itu belum cukup menggugah pedagang pigura. Mereka masih menimbang. Masih menunggu. Masih menepi. Sikap itu sebelumnya juga disampaikan Budi, salah satu pedagang pigura di Jalan Sukalila Selatan. Usai pembongkaran, ia dan rekan-rekannya sepakat berhenti sementara.

“Ke depan kami diistirahatkan dulu. Barang kami amankan ke rumah masing-masing. Disimpan dulu sambil menunggu rencana ke depan,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).

Budi menyebut, lokasi lantai 2 Pasar Pagi belum dianggap layak untuk berjualan pigura. Bukan hanya soal fisik kios. Tapi juga soal arus pengunjung. “Kalau harus pindah, kami harus bangun lagi. Modal lagi. Tapi kalau sepi, ya percuma. Lebih baik istirahat dulu. Menenangkan pikiran,” katanya.

Situasi inilah yang kini membingkai wajah baru Sungai Sukalila–Kalibaru. Secara fisik, kawasan mulai rapi. Secara visual, sungai kembali terlihat. Pepohonan kembali mendominasi. Ruang publik mulai terbuka. Namun secara sosial-ekonomi, prosesnya masih berlapis. Tidak semua bisa langsung pindah. Tidak semua siap memulai ulang.

0 Komentar