Namun, di balik fenomena alam tersebut, Desa Cipanas menyimpan narasi sejarah yang erat kaitannya dengan aktivitas panas bumi. Berdasarkan cerita lisan yang berkembang di masyarakat, kata Ahmad, wilayah ini telah dikenal sejak abad ke-15, yakni pada masa peralihan kekuasaan antara Kerajaan Rajagaluh dan Kesultanan Cirebon.
Dalam kisah tersebut, Raden Sangsang yang merupakan utusan Kesultanan Cirebon menjalankan misi penyebaran agama Islam di wilayah perbatasan Kerajaan Rajagaluh dan Kesultanan Cirebon. Selain itu, Ia juga melakukan pencarian ilmu Hawa Panas Bumi di wilayah tersebut.
Nah, setelah konflik mereda, ia melanjutkan perjalanan spiritual hingga menemukan kawasan yang kini dikenal sebagai Ki Buyut Garuda Jaya. Tempat itu dipercaya sebagai lokasi semedi Raden Sangsang sekaligus titik penting dalam sejarah desa.
Baca Juga:PLTU Cirebon Power Unit 2 resmi ditetapkan sebagai Obvitnas ke-26 di Jawa BaratPerjalanan Outbond Radar Cirebon di Semarang, Kekompakan Fondasi Utama
Di tempat tersebut, ia diyakini menghadapi Burung Garuda, yang dipercaya sebagai penjaga gaib wilayah tersebut. Peristiwa itu berakhir dengan kemenangan Raden Sangsang. Dari peristiwa tersebut, Raden Sangsang memperoleh bedug yang kemudian digunakan sebagai alat pemanggil masyarakat untuk menunaikan salat.
Bedug tersebut dimaknai sebagai simbol pengendalian hawa nafsu dan pengingat agar manusia tidak terjebak dalam pencarian kekayaan duniawi, melainkan tetap mengingat Sang Maha Kuasa.
Kisah perjumpaannya dengan Burung Garuda menjadi bagian dari narasi spiritual masyarakat Desa Cipanas. Hingga kini, kisah Garuda Jaya dan fenomena panas bumi masih hidup dalam ingatan kolektif warga, berdampingan dengan realitas lingkungan yang mereka hadapi saat ini.
Kawah Cipanas sendiri sempat menarik perhatian publik pada 2021 hingga 2022 setelah viral di media sosial. Namun demikian, viralnya fenomena tersebut belum diikuti dengan penanganan berkelanjutan.
Pemerintah desa sendiri, kata Ahmad, berharap ada kajian teknis dan langkah mitigasi dari pihak berwenang agar fenomena alam tersebut tidak terus menimbulkan dampak bagi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi warga, sekaligus tetap menghormati nilai sejarah dan kearifan lokal yang melekat pada Desa Cipanas. (awr)
