Dari sisi hulu, Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, memandang perlunya pembangunan kolam retensi sebagai penyangga air hujan. Kolam tersebut berfungsi menahan laju air agar tidak langsung mengalir deras ke wilayah hilir.
“Kuningan dan Cirebon adalah saudara serumpun. Keseimbangan alam dan kondisi lingkungan harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Dian menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kuningan akan terus melakukan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan, agar lebih peduli terhadap lingkungan dan tertib dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga:Edo: Kita Membenahi dari Dasar, Pastikan Perbaikan Jalan dan Drainase Berlanjut di 2026Tiga Kali Operasi, Pemuda Cirebon Bertahan Lawan Tumor Otak, Keluarga Hidup dari Jualan Seni Pigura
Tantangan penanganan banjir, menurut Dian, semakin kompleks seiring cuaca yang kian sulit diprediksi. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga April 2026.
Kesadaran itulah yang menguatkan kesimpulan bersama: banjir bukan persoalan sederhana. Ia menuntut kerja kolaboratif, pendekatan holistik, serta keterlibatan semua pihak, pemerintah, masyarakat, hingga pemangku kepentingan lainnya. (*)
