Tempat Ini Pernah Jadi Pusat Kekuasaan Sunda, Sekarang Hanya Sebuah Kecamatan di Ciamis, Begini Asal Usulnya

Ibukota kerajaan galuh
Menurut akun Babad Nusa, dulu Kawali merupakan pusat ibukota Kerajaan Galuh. Namun kini hanya sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Banyak masyarakat Sunda yang tidak sadar jika daerah ini bukan hanya tempat biasa. Daerah nan jauh di pedalaman ini, dulu merupakan bekas pusat kerajaan yang sekarang masuk wilayah Provinsi Jawa Barat.

Apa nama daerah tersebut? Nama yang dimaksud adalah Kawali. Menurut akun Babad Nusa, dulu Kawali merupakan pusat ibukota Kerajaan Galuh. Namun kini hanya sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis.

Akun itu menjelaskan, daerah itu dulu merupakan kerajaan yang sangat ditakuti di Tatar Sunda. Nama Kawali bukan karangan. Nama ini ada dalam prasasti yang usianya sudah ratusan tahun. Prasasti itu ditulis dengan huruf Sunda kuno.

Baca Juga:KDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir AcehKDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – Jakarta

Isi dalam prasasti tersebut jelas menyebutkan nama Kuta Kawali sebagai pusat pemerintahan Raja Galuh. “Bukan cerita, bukan mitos. Ini bukti yang sejarah yang masih berdiri hingga saat ini,” ungkap akun itu.

Namanya diambil dari Cikawali. Mata air berbentuk kuali yang dipercaya tak pernah kering. Hal itu menjadi simbul kehidupan dan kekuasaan. Dari pusat kerajaan menjadi tempat biasa.

Namun ada fakta lain yang menyebutkan jika asal-usul nama Kawali berkaitan dengan kisah Ciung Wanara dan Kerajaan Galuh. Cerita itu dimuat dalam sumber naskah kuno, dan tradisi lisan masyarakat Galuh. Hal itu seperti terungkap dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh.

Dalam naskah itu disebutkan adanya seorang Raja Bojong Galuh, yang bernama Ki Bondan. Dia menyuruh pandita sakti bernama Ajar Sukaresi, untuk menebak bayi yang ada di kandungan istrinya, Nyai Ujung Sekarjingga. Sang Raja ingin tahu apakah anaknya laki-laki atau perempuan.

Ki Bondan sesungguhnya ingin mengecoh Ajar Sukaresi. Sebab, perut Nyai Ujung Sekarjingga terlihat besar itu karena kuali yang ditaruh di dalamnya. Isterinya tidak hamil.

Namun Ajar Sukesi tahu niat jahat Ki Bondan. Sang Pandita itu kemudian berdoa minta pertolongan. Kemudian pandita itu secara spontan mengatakan jika anak yang dalam kandungan isterinya itu berjenis kelamin laki-laki.

Raja menganggap jawaban pandita bohong. Karenanya Ajar Sukesi layak dihukum karena kebohongannya.

0 Komentar