Tapi apa yang terjadi? Pakaian Nyai Ujung Sekarjingga kemudian dibuka untuk membuktikan tipu daya Sang Raja. Ternyata kuali yang dipasang di perut isterinya itu tidak ada. Nyai Ujung Sekarjingga benar-benar hamil.
Raja marah dan malu menyaksikan kejadian itu. Pandita itu pun disuruh pulang. Hanya saja secara diam-diam raja memerintahkan hulubalangya untuk membunuh sang pandita itu.
Dalam kisah itu disebutkan, kuali yang ada pada perut Nyai Ujung Sekarjingga sesungguhnya ditendang secara gaib oleh Ajar Sukaresi. Kuali itu kemudian jatuh di Kampung Selapanjang. Kampung itu kelak berganti nama menjadi “Kawali”.
Baca Juga:KDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir AcehKDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – Jakarta
Menurut cerita rakyat, tempat jatuhnya kuali itu menjadi mata air dan kolam yang disebut “Balong Kawali” atau “Cikawali”. Tempat ini sekarang ada di dalam lingkungan Situs Astana Gede Kawali.
Ajar Sukaresi yang hendak dibunuh oleh utusan raja, pada awalnya tidak dapat dilukai karena kesaktiannya. Namun, ia akhirnya merelakan dirinya dibunuh.
Dengan tubuh penuh luka, Ajar Sukaresi berjalan hendak kembali ke pertapaannya di Gunung Padang. Dalam perjalanannya, luka Ajar Sukaresi mengeluarkan darah berwarna kuning di suatu tempat.
Tempat itu kemudian disebut “Cikoneng”. Setelah lama berjalan, Ajar Sukaresi tergolek di atas tanah. Tempat ia tergolek itu kemudian disebut “Cikedengan”.
Dia kemudian berjalan lagi, tetapi jatuh lagi dan mengeluarkan darah yang berwarna bening. Daerah itu kemudian dikenal dengan nama “Ciherang”. Akhirnya, sampailah Ajar Sukaresi di pertapaannya.
Dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh disebutkan, Nyai Ujung Sekarjingga benar-benar melahirkan anak laki-laki. Anak itu kemudian diberi nama Ciung Wanara.
