“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan sekadar coach. Saya tahu nama saya bukan Tuchel, Mourinho, atau Conte, tetapi saya adalah manajer klub ini,” ucap Amorim dengan nada menyindir, seperti dikutip The Guardian.
Meski secara administratif jabatan resminya hanyalah “kepala pelatih”, Amorim bersikeras memegang kendali penuh atas tim. Namun, di tengah kritik tajam dari internal, termasuk keraguan dari kepala perekrutan Christoper Vivell atas taktiknya, masa depan Amorim kini sepenuhnya bergantung pada keputusan dewan direksi dalam beberapa waktu kedepan. (net)
