Mahkamah Agung Venezuela kemudian menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara. Namun penunjukan ini justru memicu ketakutan di kalangan warga, yang menilai Rodríguez sebagai otak di balik kebijakan represif rezim Maduro.
*Analisis Geopolitik
Pakar geopolitik dan pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie menilai invasi AS ke Venezuela sebagai bentuk perang gaya baru dan eskalasi Doktrin Monroe. Menurutnya, konflik ini bukan sekadar pergantian rezim, melainkan perang akses terhadap sumber daya strategis, terutama energi.
“Ini adalah perang akses, bukan perang ideologi. Venezuela adalah simpul energi global. Perubahan kendali akan berdampak besar pada pasar energi dunia, OPEC+, serta kepentingan Rusia dan Tiongkok,” ujar Connie.
Baca Juga:Memotret Malam Tahun Baru 2026 di Cirebon, Ternyata Tetap "Meledak", Warga: Kalau di Rumah Saja SepiAnggaran Tak Kuat, BRT Trans Cirebon Berhenti Beroperasi Mulai 1 Januari 2026
Ia juga menyoroti standar ganda hukum internasional yang kembali mengemuka. “Hukum internasional ada, tetapi penerapannya selektif. Sejarah Panama, Irak, Libya, hingga Venezuela menunjukkan legitimasi sering kalah oleh kecepatan dan kekuatan,” katanya.
*Babak Baru Ketegangan Global
Penangkapan Nicolas Maduro menandai babak baru konflik Amerika Serikat–Venezuela dan berpotensi mengubah peta geopolitik Amerika Latin. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut, tetapi juga merembet ke pasar energi global, hubungan antarblok dunia, serta masa depan hukum internasional.
Hingga kini, dunia masih menanti kejelasan: apakah penangkapan ini akan menjadi preseden berbahaya dalam tatanan global, atau justru membuka era baru intervensi terbuka negara adidaya atas nama hukum dan keamanan. (disway)
