Berulang Kali Banjir, Warga Mundu Berharap Ada Penanganan Jangka Panjang

Lumpur Tebal di Mundu Akibat Banjir
BERSIH-BERSIH: Warga Perumahan Grand Firdaus 3 Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, membersihkan rumah dan jalan umum dari lumpur tebal akibat banjir, Selasa (6/1/2025). Foto: Khoirul Anwarudin/Radar Cirebon
0 Komentar

Warga bergotong royong membersihkan lumpur menggunakan alat seadanya, dibantu petugas yang menyemprotkan air bertekanan. Endapan lumpur bercampur tanah dan puing membuat proses pembersihan berjalan cukup berat.

Ketua RT 06 RW 01 Desa Banjarwangunan, Andi Mulyadi, mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 15.00 WIB setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Ketinggian air mencapai sekitar satu meter dan diperparah jebolnya tembok akibat saluran air yang penuh.

Selain merendam permukiman, banjir juga membawa lumpur tebal yang membuat fasilitas umum seperti musala dan pos ronda tidak dapat digunakan sementara. Kerugian warga didominasi kerusakan perabot rumah tangga dan barang-barang elektronik. “Kerugian terbesar yang dialami oleh warga, yaitu rusaknya barang-barang elektronik dan perabot rumah. Dokumen-dokumen juga pada hanyut terbawa banjir,” katanya.

Baca Juga:Walikota dan Ratusan ASN akan Pindah dari Gedung Setda ke Grage Mall CitySawit Gaib di Cigobang Dicabut Lebih dari 300 Batang dengan Usia Sekitar 4 Bulan

Sementara itu, Kuwu Desa Banjarwangunan, Sulaeman, menyebut banjir dipicu oleh meluapnya Sungai Kalinyu akibat tingginya sedimentasi lumpur yang mengurangi daya tampung sungai. “Sedimentasi di Sungai Kailunyu sudah sangat tinggi. Saat hujan deras, air langsung meluap ke permukiman. Terutama di wilayah perumahan yang berada di dekat sungai,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, kata Sulaeman, terdapat setidaknya 1.120 rumah yang terdampak banjir. Adapun ketinggiannya berkisar antara 1 meter hingga 1,5 meter. “Rata-rata yang terdampak memang yang lokasinya berada di sekitar sungai, sehingga cukup banyak endapan lumpur yang terbawa,” jelasnya.

Dengan adanya peristiwa ini, warga bersama pemerintah desa berharap adanya penanganan jangka panjang, seperti normalisasi sungai, pengalihan aliran air, serta pembangunan Tanggul Penahan Tanah (TPT) atau senderan batu untuk mencegah banjir terulang. “Kondisi di area bawah cukup parah. Kami berharap ada penanganan serius dan berkelanjutan agar banjir tidak kembali terjadi,” pungkasnya. (awr)

0 Komentar