RADARCIREBON.ID – Sopiyah duduk bersandar di sudut ruangan sempit. Matanya setengah terpejam, tangannya terlipat di pangkuan. Di sekelilingnya, perabot seadanya berhimpitan: galon air, termos, panci, ember, dan sebuah meja kayu kecil dengan cat yang sudah mengelupas. Itulah ruang hidupnya sehari-hari.
Perempuan lanjut usia (lansia) itu tinggal seorang diri di sebuah bangunan berbahan triplek berukuran sekitar 1,5 x 2,5 meter di RT/RW 6/17 Kriyan Barat, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Gubuk kecil itu berdiri menempel di tembok rumah warga. Atapnya rendah, sementara cahaya hanya masuk dari celah-celah papan.
Baca Juga:FEB UGJ Cirebon Jadi Tujuan Belajar Mahasiswa FilipinaLelang Dini Pembangunan 2026 Tuntas, 27 Paket Bina Marga Cirebon Siap Dikerjakan
Di ruangan sempit itu pula Sopiyah menjalani seluruh aktivitas hidupnya: tidur, mandi, mencuci, hingga buang air besar. WC tanpa sekat menyatu dengan ruang tidur. Tak ada pemisah. Tak ada privasi.
Bangunan tersebut bukan hasil bantuan pemerintah. Gubuk itu berdiri dari swadaya warga sekitar. Mulai dari papan, atap, hingga proses pendiriannya dilakukan secara gotong royong, sekadar agar Sopiyah memiliki tempat berteduh.
Dari luar, bangunan itu tampak rapuh. Dinding triplek berwarna pucat, bagian bawahnya lembap. Pintu kayu tipis menjadi satu-satunya akses keluar-masuk. Kontras dengan rumah-rumah permanen di sekitarnya.
Sopiyah hidup sebatang kara. Ia tak memiliki suami maupun anak kandung. Anak angkat yang pernah dirawatnya sejak kecil kini tak lagi diketahui keberadaannya.
“Sekarang sudah enggak tahu ke mana. Sudah enggak sayang,” ujar Sopiyah kepada Radar Cirebon, Rabu (7/1/2026).
Kondisi fisiknya pun tak lagi utuh. Tiga tahun lalu, ia mengalami kecelakaan di sekitar rel kereta api. Saat hendak turun, kakinya terpeleset hingga tubuhnya terjatuh di bebatuan.
“Jatuh di batu-batu rel. Mau turun ke bawah, terus kepleset,” katanya.
Baca Juga:Empat Periode, Jalan Tetap Rusak Warga Cirebon Soroti Peran Anggota DewanDongkrak PAD, Komisi II DPRD Cirebon Dorong Optimalisasi Pajak Daerah
Sejak peristiwa itu, kakinya tak pernah benar-benar pulih. Untuk berjalan, ia harus bertumpu pada tongkat kayu. Bahkan, menurut warga, pada masa awal pascakecelakaan, Sopiyah nyaris tak bisa berdiri.
“Sakit sudah tiga tahun. Dulu sama sekali enggak bisa bergerak. Sekarang sudah mending, sudah bisa jalan pelan-pelan,” tuturnya.
Sebelum sakit, Sopiyah biasa berkeliling lingkungan untuk mencari sedekah warga. Bukan dengan memaksa, hanya berharap belas kasih. Kini, aktivitas itu tak lagi sanggup ia lakukan.
