RADARCIREBON.ID- Bendung Cipager di Desa Kubang, Kecamatan Talun, menjadi salah satu titik krusial pemantauan potensi banjir di wilayah Cirebon, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur kawasan hulu di Kabupaten Kuningan. Bendung ini menerima aliran air dari tiga sumber utama. Yakni Sungai Cirembay, Sungai Cigolempang, dan saluran PL 11 Paniis Lebak.
Ketika hujan deras terjadi di wilayah hulu, mereka yang bertugas di Bendung Cipager harus siaga. Hal itu dibenarkan salah satu petugas jaga Bendung Cipager, Imbang.
Katanya, saat hujan deras di Kuningan, maka harus selalu memantau ketinggian muka air. Pemantauan dilakukan secara langsung di bendung, sekaligus melalui koordinasi dengan petugas bendungan lain di Kabupaten Kuningan.
Baca Juga:Dana Desa 2026 Dipotong hingga Rp700 Juta, Ketua FKKC Sebut Pembangunan Fisik TerancamAzis Minta Salinan BAP Gedung Setda, Furqon: Semoga Segera Ada Respons
“Kalau di Kuningan sudah hujan deras, kami langsung pantau muka air di Cipager. Informasi juga kami dapat dari Bendung Cirembay, Cigolempang, dan saluran PL 11 Paniis Lebak,” ujar Imbang saat ditemui Radar Cirebon, Jumat (9/1/2026).
Di Bendung Cipager sendiri status ketinggian muka air telah ditetapkan dalam tiga kategori. Level waspada berada di angka 80 sentimeter, siaga 100 sentimeter, dan awas ketika mencapai 120 sentimeter. Begitu air masuk kategori waspada, Imbang menyebarkan informasi ke berbagai grup WhatsApp.
Informasi tersebut terutama disampaikan kepada pemerintah desa dan aparat desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Cipager. Wilayah yang masuk dalam jalur aliran sungai ini meliputi Kecamatan Talun, Sumber, Weru, Tengah Tani, hingga Gunung Jati, termasuk sejumlah kali kecil yang merupakan anak Sungai Cipager.
“Kita langsung info ke desa-desa yang dilalui sungai. Selain itu, kami juga punya grup dengan petugas jaga bendungan di hulu di Kuningan. Kalau sudah ada hujan deras di Kuningan, kami saling berbagi informasi,” katanya.
Selain penyampaian peringatan dini, langkah antisipasi lain yang dilakukan adalah menutup saluran sekunder. Saluran tersebut berfungsi mengairi persawahan di wilayah Cirebon, namun akan ditutup sementara untuk mengurangi debit air saat kondisi kritis.
Menurut Imbang, saat muka air sudah berada di level waspada, potensi banjir mulai meningkat, terutama di wilayah yang berada dekat dengan bantaran Sungai Cipager. Risiko akan semakin besar jika hujan berlangsung dalam durasi yang cukup lama.
