Ia mencontohkan peristiwa banjir yang terjadi pada Januari 2025 lalu. Saat itu, muka air di Bendung Cipager bahkan mencapai 170 hingga 180 sentimeter, jauh di atas ambang awas. Kondisi tersebut dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah Kuningan dan Cirebon secara bersamaan. “Waktu kejadian itu air benar-benar tinggi karena hujan di hulu dan di Cirebon juga deras,” ungkapnya.
Luapan air dari Bendung Cipager, lanjut Imbang, membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai wilayah Bendung Canggong di Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani. Sementara untuk sampai ke Kecamatan Gunung Jati, aliran air biasanya memakan waktu sekitar dua jam. “Kalau debitnya sangat besar, bisa lebih cepat sampai ke wilayah hilir. Makanya kami selalu pantau,” imbuhnya. (*)
