Jembatan Rinjani Amblas, Pemkot Cirebon Tak Sanggup Perbaiki Sendiri

Jembatan Rinjani Amblas, Pemkot Cirebon Tak Sanggup Perbaiki Sendiri
JALUR RAMAI: Meski dalam kondisi rusak, lalu lintas kendaraan di atas Jembatan Rinjani di Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, tetap ramai. Kondisi itu terpantau pada Senin (12/1/2026).  Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Namun, larangan itu sering kalah oleh kebutuhan. Jembatan Rinjani adalah akses alternatif penting. Ia menghubungkan kawasan perumahan dengan jalur utama menuju pusat kota. Setiap hari, arus motor, mobil pribadi, hingga kendaraan niaga kecil tetap melintas. Di jam-jam sibuk, antrean mengular pendek, terutama ketika dua mobil berpapasan di jalur yang kini menyempit.

Lokasi jembatan yang strategis juga membuat kondisinya kerap menjadi sorotan. Titik ini, kata Yuki, bahkan sempat didatangi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), karena letaknya dekat dengan kantor kelurahan dan Taman Bacaan Cikalong. Soal penanganan, Yuki mengakui belum ada langkah besar yang benar-benar menyentuh inti persoalan.

“Beberapa tahun lalu sebenarnya sudah dialokasikan anggarannya. Tapi setelah dihitung ulang, pagunya tidak cukup. Makanya sampai sekarang belum jelas perkembangannya seperti apa dari PU. Koordinasi dengan BBWS juga masih berjalan,” ujarnya.

Baca Juga:Kasus Pajak KPP Madya Jakut, KPK Sebut Kerap Terjadi Kongkalikong Pegawai Pajak dengan KonsultanDugaan Pengaturan Pajak di Sektor Pertambangan, Para Tersangka di-OTT KPK termasuk KPP Jakarta

Di tingkat kelurahan, keresahan warga terasa lebih dekat. Lurah Larangan, Dani Rahmat Permana, menyebut tanda-tanda kerusakan sudah muncul sejak 2022. “Awalnya retakan kecil-kecil. Belum seperti sekarang. Tahun 2024 mulai kelihatan ada penurunan,” kata Dani kemarin.

Laporan demi laporan sudah dilayangkan. Dari kelurahan ke kecamatan. Dari kecamatan ke Dinas PUPR Kota Cirebon. Bahkan ke walikota. “Tahun 2024 kami laporkan ke Dinas PUPR. Akhir 2024 sudah ada pengukuran. Katanya sudah dianggarkan untuk 2025,” ujarnya.

Namun, waktu berlalu tanpa perubahan di lapangan. Tidak ada alat berat. Tidak ada pekerjaan fisik. Yang ada hanya pembatas plastik dan papan peringatan yang setia berdiri di tengah jalan. “Kami di kelurahan tidak tahu apakah ada peralihan anggaran atau efisiensi. Intinya, sampai sekarang belum ada perbaikan,” kata Dani.

Soal penyebab kerusakan, ia menduga kombinasi usia bangunan dan beban berlebih menjadi faktor utama.

“Jembatan ini sudah lama. Kadang juga masih ada truk atau kendaraan muatan berat yang lewat, mungkin melebihi kapasitas,” ujarnya.

Dampaknya langsung dirasakan warga. Setiap melintas, ada rasa waswas. “Warga khawatir, tidak nyaman. Tapi karena butuh jalan cepat, mau tidak mau tetap lewat. Walaupun dalam keadaan was-was,” kata Dani.

0 Komentar