Prof Jaka Sulaksana Menjadi Guru Besar Ketiga di Universitas Majalengka

Prof Jaka Sulaksana SP MSi PhD dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Majalengka (Unma) dalam sidang terbuk
Prof Jaka Sulaksana SP MSi PhD dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Majalengka (Unma) dalam sidang terbuka Senat Akademik di Auditorium Unma, Rabu (14/1/2026).
0 Komentar

MAJALENGKA – Universitas Majalengka (Unma) kini memiliki tiga guru besar. Setelah sebelumnya Prof Sri Ayu Andayani SP MP dan Prof Dr. Indra Adi Budiman MPd dikukuhkan, kini Prof Jaka Sulaksana SP MSi PhD resmi menyandang gelar guru besar.

Prof Jaka Sulaksana dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Majalengka dalam sidang terbuka Senat Akademik yang digelar di Auditorium Unma, Rabu (14/1/2026).

Ia dikukuhkan sebagai guru besar dalam ranting ilmu atau kepakaran pembangunan pertanian. Bidang kepakaran ini tercatat sebagai satu-satunya di lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat–Banten.

Baca Juga:Jadwal Persib di 16 Besar ACL 2 Lawan Ratchaburi FC, Leg Kedua di GBLA Menjadi KunciBisa Cetak Hattrick, Peluang Juara Persib Bandung Naik 66 Persen Setelah Menjadi Klasemen Paruh Musim

Prof Jaka mengatakan, gelar guru besar merupakan puncak pengabdian seorang akademisi. Karena itu, Universitas Majalengka berharap kehadiran tiga guru besar dapat semakin meningkatkan kualitas pengabdian, pendidikan, dan penelitian di lingkungan kampus.

“Bidang kepakaran pembangunan pertanian ini menjadi tantangan sekaligus peluang karena sangat selaras dengan program pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tantangan dari Pak Bupati juga relevan dengan bidang saya. Tentu ini bukan akhir, ke depan masih banyak tantangan lain yang harus dihadapi,” kata Prof Jaka usai sidang senat.

Terkait statusnya sebagai satu-satunya guru besar pada ranting kepakaran pembangunan pertanian di LLDIKTI Wilayah IV, Prof Jaka menjelaskan bahwa dalam rumpun sosial ekonomi pertanian terdapat beberapa ranting, antara lain pembangunan pertanian, manajemen agribisnis, dan penyuluhan.

“Khusus pembangunan pertanian, ruang lingkupnya lebih pada kebijakan makro pertanian. Karena itu, bidang ini masih tergolong jarang. Kepakaran ini juga berkaitan langsung dengan program ketahanan pangan yang saat ini menjadi kebijakan pemerintah pusat,” katanya.

Menurut dia, kepakaran pembangunan pertanian bersifat lebih komprehensif dan terarah. Dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, terdapat 17 indikator yang menjadi rujukan, termasuk di dalamnya ketahanan pangan dan usaha tani berkelanjutan.

Wakil Rektor I Unma ini juga mendorong para dosen, khususnya yang telah bergelar doktor, agar termotivasi mengikuti jejaknya meraih jabatan fungsional guru besar.

“Saya menempuh jenjang dari lektor kepala ke guru besar sekitar 2,5 tahun. Seharusnya teman-teman juga bisa,” katanya.

0 Komentar