Kapitayan, Kunci Sukses Walisongo Sebarkan Islam di Tanah Jawa

kapitayan agama di jawa
Cover buku Kapitayan yang ditulis Agus Wahyudi.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Soal penyebaran agama Islam di Tanah Jawa yang masif oleh Walisongo, kembali menjadi pembicaraan. Ternyata, salah satu kunci suksesnya karena penduduk di Pulau Jawa sebagian besar sudah menganut agama Kapitayan.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh KH Agus Sunyoto, sejarawan dan penulis buku “Atlas Walisongo”. Ungkapan di media sosial itu diberi judul “Kapitayan dan Kunci Islamisasi Tanah Jawa”.

Walisongo, ungkap Agus, pernah melakukan semacam survei, meminjam istilah sekarang ini. Mereka mensurvei jumlah penduduk di Tanah Jawa yang menganut agama Islam, Hindu dan Budha.

Baca Juga:Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap Delta Force, Operasi Mirip di Film ActionTransJakarta Benchmark Pengembangan BRT Trans Cirebon

Dalam survei tersebut, urai Agus, ternyata diperoleh data, penduduk yang menganut Hindu dan Budha, itu sebagian besar orang keraton. Sementara masyarakat di luar keraton, mayoritas menganut agama kuno. Namanya Kapiyatan.

“Agama kuno Kapiyatan inilah yang disalahpahami oleh sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinamisme,” ungkap Agus.

Dijelaskannya, Kapitayan adalah agama yang menyembah Tuhan yang disebut Sang Hyang Taya. Taya itu artinya kosong. Atau suwung dalam bahasa Jawa. Taya itu juga berarti tidak bisa dijelaskan dan tidak bisa digambarkan.

Karena itu, ujar Agus, hanya bisa didefinisikan Taya itu bermakna “Tan Keno Kinoyo Opo”. Artinya, tidak bisa diapa-apakan.

Itulah sebabnya, tegas sejarawan ini, sebelum zaman Walisongo, Islam itu sulit dikembangkan di Tanah Jawa. Saudagar-saudagar dulu tetap menggunakan paradigma Arab yang dibawa ke Indonesia.

Agus mencontohkan bahwa Allah itu berkedudukan di Arsy. Yang digambarkan ada tempatnya. Kemudian duduk di kursi sebagai singgasana-Nya.

Penjelasan para saudagar itu, walau benar, tegas Agus, tapi banyak mendapatkan penolakan. Sebab, jika begitu menurut orang Kapitayan, Islam tak ada bedanya dengan Hindu. Dewa-dewa dalam agama Hindu juga dilukiskan duduk di singgasana.

Baca Juga:KDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir AcehKDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – Jakarta

Padahal, menurut uraian Agus, orang Jawa Zaman Kuno jika melakukan sembahyang, menghadap ke arah gua. Gua itu kosong. Jadi menghadap ke arah kosong. Tuhan mereka tidak memiliki singgasana.

“Itulah ketika zaman Megalitikum, orang-orang Kapitayan ini mampu membuat rumah ibadah. Yang disebut dengan nama Sanggar,” jelasnya.

0 Komentar