Agus melukiskan, bentuk sanggar itu segi empat. Di tengahnya ada lubang yang kosong. Ibadah mereka menghadap ke lubang yang suwung itu.
Walisongo, jelasnya lagi, ketika melihat ajaran-ajaran Kapitayan, mirip sekali dengan Islam. Apalagi jika praktik sembahyang mereka yang memiliki 4 gerakan.
Pertama Tulajek, berdiri tegak dengan tangan suwadikep atau bersedekap. Kedua Tunggul. Mirip rukuk dalam Islam. Ketiga, Tondem atau sujud. Keempat Tulumpuk, atau duduk seperti saat tahiyat.
Baca Juga:Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap Delta Force, Operasi Mirip di Film ActionTransJakarta Benchmark Pengembangan BRT Trans Cirebon
“Itu sembahyangnya Kapitayan zaman kuno. Tak tahu siapa nabinya yang mengajarkan seperti itu,” ujar pria yang suka memakai peci warna hitam itu.
Kalau puasa, tambahnya, orang Kapitayan memberikan nama Puasabrata atau Upawasa, tidak makan minum dari pagi sampai sore. Yang mereka lakukan adalah Poso Dino Pitu. Atau puasa hari tujuh. Bukan 7 hari puasa. Cukup dua hari. Yaitu hari kedua dan hari kelima.
“Dua tambah lima sama dengan tujuh. Siapa yang puasa di hari kedua dan kelima sama dengan puasa selama 7 hari. Walisongo menangkap hari kedua itu Senin dan hari kelima Kamis,” urainya.
Kemudian Walisongo, terutama oleh Sunan Bonang, menyimpulkan bahwa penduduk penganut Kapitayan adalah orang Islam. Hanya saja mereka belum membaca Syahadat, belum dikhitan dan belum mengenal Al Quran.
“Karena itu tugas Walisongo adalah mensyahadatkan penduduk, mengajak mereka khitan dan kemudian baru mengenal Al Quran,” urainya lagi.
Itulah ketika Sunan Bonang menjadi imam di Masjid Agung Demak, untuk pertama kalinya punya gagasan pensyahadatan massal. Lewat acara Sekaten. Orang Jawa lidahnya tidak bisa membaca Syahadatain, tapi sekaten.
“Padahal sama-sama membaca dua kalimat syahadat. Dari kata syahadatain menjadi sekaten,” jelasnya.
Baca Juga:KDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir AcehKDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – Jakarta
Walisongo pun kemudian membikin arak-arakan agar masa berkumpul. Setelah berkumpul, kemudian diajak membaca syahadat bareng-bareng.
Syahadat secara massal diikuti oleh Sunan Ngudung. Sang Sunan membawa rombongan jatilan atau jaranan dari desa ke desa. Kemudian berhenti di tanah lapang, main. Penduduk yang datang diajak membaca dua kalimat syahadat secara bersama-sama.
