Agus menyebut jika hal itulah Islam yang mengambil alih ajaran Kapiyatan. Begitu cepat diterima di Tanah Jawa. Kemudian langsung diklaim semua penduduk sudah menganut agama Islam.
Karenanya, istilah yang berlaku di agama Kapiyatan tidak dirubah oleh para wali. Menyembah Tuhan tidak pakai istilah Salat tapi sembahyang. Menyembah Hyang Taya. Yang kosong itu.
Tempat sembahyang yang disebut sanggar oleh Walisongo hanya diganti dengan langgar. Tidak makan tidak minum tak memakai istilah shoum. Tapi cukup Pasa Brata atau Upawasa. Semuanya diganti dengan istilah lokal Jawa.
Baca Juga:Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap Delta Force, Operasi Mirip di Film ActionTransJakarta Benchmark Pengembangan BRT Trans Cirebon
“Tidak ada istilah janatul firdaus. Tapi pakai istilah Suwargo. Tak ada istilah narrul jahanam. Tetap menggunakan istilah neroko. Kalau orang baik di surga dilayani bukan oleh Hurin, tapi menggunakan istilah Bidodari. Semua bahasa lokal,” pungkasnya.
