Dari sisi transportasi udara, operasional penerbangan dibagi antara dua maskapai. Garuda Indonesia melayani 277 kloter dari 10 embarkasi, sedangkan Saudia Airlines melayani 248 kloter dari 6 embarkasi. Kemenhaj juga menata aspek administrasi dan identifikasi jamaah melalui penggunaan kode penerbangan untuk membedakan asal embarkasi, termasuk untuk wilayah yang sama-sama terbang melalui Bandara Soekarno-Hatta (CGK), seperti JKG (Jakarta Pondok Gede) dan JKS (Jakarta Bekasi). Tahun ini, optimalisasi juga dilakukan lewat embarkasi Kertajati (KJT) dan Yogyakarta (YIA).
Hasan mengingatkan bahwa dinamika lapangan bisa memaksa penyesuaian cepat, terutama di sektor bandara. Petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara disebut menjadi unsur paling dinamis karena harus bergerak mengikuti fase kedatangan dan kepulangan jamaah, berbeda dengan petugas Daker Makkah yang cenderung menetap hingga operasional selesai.
“Petugas daker bandara itu seperti sedang berkemah, mereka terus berpindah dari Madinah ke Jeddah mengikuti fase kedatangan dan kepulangan jemaah. Berbeda dengan petugas daker Makkah yang akan menetap di satu lokasi hingga seluruh operasional selesai,” ungkapnya.
Baca Juga:Momen Nataru, JNE Cirebon Banjir Kiriman PaketJalin Sinergi Lewat Senam Bersama
Di tengah masa tunggu haji reguler yang bisa mencapai 26 tahun, Kemenhaj mengimbau jemaah mengikuti arahan petugas dan tidak memilih-milih penempatan kloter. Kepatuhan pada pengaturan arus dinilai menjadi kunci agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan lancar dan nyaman bagi semua. (dsw)
