Ia menambahkan, akses masuk dan proses belajar di Indonesia dinilai lebih mudah dan lebih terjangkau, terutama bagi calon mahasiswa dari Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Dengan kampus cabang di Indonesia, mahasiswa dari negara-negara tersebut tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke Mesir untuk memperoleh pendidikan berstandar Al-Azhar.
Terkait mutu, Nasaruddin menegaskan pemerintah akan memastikan kualitas pembelajaran tidak berbeda jauh dari kampus asalnya. Ia menyebut dosen-dosen Al-Azhar akan dihadirkan ke Tanah Air dan mendapatkan fasilitas yang layak, disertai dukungan sarana pembelajaran yang memadai. Dengan cara itu, Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat baru pendidikan Islam internasional di kawasan, sekaligus membantu Al-Azhar mengelola beban akademiknya.
“Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini,” ungkapnya.
Baca Juga:Momen Nataru, JNE Cirebon Banjir Kiriman PaketJalin Sinergi Lewat Senam Bersama
Di luar agenda utama tersebut, Nasaruddin juga dijadwalkan menjadi pembicara di Universitas Al-Azhar dalam seminar internasional bertema ekoteologi. Ia menilai gagasan ekoteologi semakin menguat dan relevan, terutama dalam merespons tantangan krisis lingkungan melalui perspektif keagamaan dan etika publik. (dsw)
