“Insya Allah setiap tahun akan kita selenggarakan. Ke depan lebih besar, lebih luas, dan lebih berdampak,” katanya.
Puncak acara diisi tausiyah oleh KH Jafar Shodiq MPd. Dengan gaya lugas dan penuh humor ringan, ia mengajak jamaah merenungi makna haul dan Isra Mi’raj.
Menurutnya, manusia kerap larut dalam kesibukan dunia hingga lupa pada kematian dan doa.
Baca Juga:Presiden Prabowo Setujui Pengembalian TKD Rp10,6 T untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Demi Percepat Pemulihan BencaPemkab Cirebon Susun RKPD 2027, Jigus Minta Fokus Infrastruktur dan Hilirisasi Daerah
Ia menekankan bahwa haul bukan sekadar tradisi, tetapi sarana mempersatukan umat: yang hidup diingatkan, yang wafat didoakan.
Jamaah yang hadir—mulai dari siswa, wali murid, hingga masyarakat umum—dipandang sebagai barisan doa untuk almarhum Abah Mansyur.
KH Jafar juga mengapresiasi perkembangan Yayasan Mansyur Al Makki. Meski tergolong baru, yayasan ini dinilainya berkembang pesat dan terarah.
Ia menyebut kekuatan utama Yamaki terletak pada persatuan keluarga dan visi pendidikan yang jelas.
Wasiat Abah Mansyur kepada anak-anaknya, kata KH Jafar, sederhana namun kuat: jadilah manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Pesan itu sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW tentang manusia terbaik adalah yang paling memberi manfaat.
Kini, Yayasan Mansyur Al Makki menaungi pendidikan dari TK, SMP, SMA, SMK, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi. Semua itu, menurut KH Jafar, merupakan wujud nyata dari wasiat yang dijalankan secara konsisten.
Baca Juga:Haji 2026: Kemenhaj Terapkan Dua Gelombang agar Pergerakan di Tanah Suci Tak Tumpang Tindih OTT KPK di Madiun dan Pati, Dua Kepala Daerah Terjaring
Menjelang akhir acara, jamaah kembali larut dalam doa bersama. Di bawah tenda, suasana hening menyelimuti Panambangan.
Haul ini bukan sekadar mengenang satu nama, tetapi menegaskan arah: pendidikan, persatuan, dan kebermanfaatan sebagai warisan yang terus hidup. (ade/opl)
