RADARCIREBON.ID- Di sebuah sudut padat penduduk Kriyan Barat, hidup Suhendri berjalan pelan. Seorang dengan gangguan jiwa (ODGJ) selama bertahun-tahun. Tinggal di rumah jauh dari kata layak bersama adiknya, Heri. Negara seolah belum benar-benar hadir.
Rumah itu berdiri seadanya di RT/RW 1/17. Alasnya masih tanah. Dindingnya bukan tembok, melainkan triplek dan anyaman bambu yang sudah rapuh, berlubang, dan menghitam dimakan usia. Cahaya masuk dari sela-sela papan.
Angin bebas menyusup. Atapnya tambal-sulam. Tak ada kesan ruang yang utuh, apalagi nyaman. Lorong sempit di dalam rumah dipenuhi papan kayu, barang bekas, dan sepeda tua yang teronggok. Ruang gerak terbatas. Bau lembap bercampur sisa makanan.
Baca Juga:Cuaca Masih Labil, BMKG Imbau Masyarakat WaspadaPembangunan Perumahan di Kaki Bukit Plangon Tutup Sementara
Di salah satu sudut, sebuah ruangan kecil menjadi tempat Suhendri lebih banyak menghabiskan hari-harinya. Alas tidur tipis digelar di lantai tanah. Botol-botol air mineral kosong berserakan di sekelilingnya. Meja kecil berkarat menahan sisa nasi dan lauk seadanya.
Kadang Suhendri hanya duduk diam. Tatapannya kosong. Kadang pula ia mengamuk. Ketua RT setempat, Mochamad Kosim menyebut amukan itu pernah disertai pisau di tangan. Situasi yang membuat tetangga waswas.
Heri, sang adik, adalah satu-satunya yang merawat. Ia tak punya pekerjaan tetap. Hidupnya bergantung pada belas kasihan warga. Disuruh ambil air, belanja, membersihkan sesuatu –apa saja. Upahnya tak menentu. Untuk makan hari ini saja sering kali belum pasti, apalagi untuk biaya pengobatan atau perawatan kakaknya. “Sehari-hari memang dirawat adiknya. Kondisi ekonominya sangat memprihatinkan,” kata Ketua RT 1, Mochamad Kosim, Jumat kemarin (16/1/2026).
Suhendri bukan satu-satunya. Satu adik lainnya, Sumarna, juga ODGJ. Namun keberadaan Sumarna kini tidak jelas. Warga menduga ia telantar di jalanan. Nama Sumarna masih tersisa dalam ingatan dan cerita warga.
Ketua RW 17 Kriyan Barat, Bambang Jumantra, menyebut hampir satu keluarga itu mengalami gangguan kejiwaan. Dua yang paling parah, kata dia, adalah Sumarna dan Suhendri. Saat masih berada di lingkungan, Sumarna kerap meresahkan. Ia buang air besar sembarangan, bahkan di musala. Ia juga mengambil pakaian dan sandal milik warga. “Kalau Suhendri ini lebih sering dikurung di rumah. Tapi tetap saja, kadang mengamuk dan itu meresahkan,” ujar Bambang.
