Seorang warga lanjut usia yang tinggal tak jauh dari Sukalila juga menyampaikan harapan serupa. Ia membayangkan bantaran sungai menjadi tempat berjalan santai, duduk sore, atau sekadar menikmati aliran air. “Kalau sudah ditata, kami yang sepuh-sepuh ini juga punya tempat,” kata Suryadi.
Pemerintah sendiri memastikan bahwa penataan bukan sekadar wacana. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung menegaskan normalisasi Sungai Sukalila hingga Kalibaru menjadi agenda awal sebelum kawasan ditata.
Kepala BBWS Cimanuk–Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, menyatakan normalisasi direncanakan dimulai pada minggu ketiga atau keempat Januari 2026, setelah proses penganggaran rampung. Pengerjaan diperkirakan berlangsung sekitar satu bulan. “Penataan dilakukan setelah normalisasi, dengan konsep jogging track, taman, jembatan, dan ruang duduk warga,” ujarnya.
Baca Juga:Cuaca Masih Labil, BMKG Imbau Masyarakat WaspadaPembangunan Perumahan di Kaki Bukit Plangon Tutup Sementara
BBWS mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,8 miliar untuk penataan kawasan Sukalila–Kalibaru pada 2026. Panjang kawasan yang ditangani hampir satu kilometer, mencakup dua ruas sungai. Vegetasi di sekitar sungai tetap dipertahankan, hanya dilakukan pemangkasan terbatas.
Penataan dilakukan secara kolaboratif. BBWS menangani sungai dan bantaran, sementara Pemkot Cirebon menangani pedestrian, trotoar, dan elemen pendukung kawasan kota.
Walikota Cirebon Effendi Edo sebelumnya menegaskan bahwa penertiban Sukalila–Kalibaru jadi pembelajaran penting. Pendekatan persuasif dan kejelasan konsep membuat warga bersedia membongkar secara mandiri. Prinsipnya, penertiban harus diikuti solusi dan pembangunan.
Sementara itu, dukungan atas Langkah Walikota Effendi Edo juga dayang Anggota DPRD Kota Cirebon, Anita Tri Handayani. Ia menjelaskan, penataan bantaran Sukalila-Kalibaru tidak hanya berdampak pada keindahan kota, tetapi juga memiliki manfaat strategis dalam mendukung pengendalian banjir, peningkatan kualitas lingkungan, serta membuka potensi kawasan menjadi ruang publik yang lebih produktif.
“Penataan bantaran Kali Sukalila oleh Pemkot Cirebon ini patut diapresiasi. Ini menunjukkan keseriusan Pak Walikota menata kawasan perkotaan secara berkelanjutan, sekaligus memperhatikan aspek lingkungan dan kenyamanan warga,” ujar Anita.
Ia menambahkan, kawasan bantaran sungai yang sebelumnya terkesan kumuh dan tidak tertata kini mulai berubah menjadi lebih rapi dan fungsional. Hal tersebut, lanjut Anita, harus terus dijaga dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.
