Petugas Harus Paham Haji Tamattu, Kemenhaj Tekankan Wajib Kuasai Dam, Miqat, dan Sektor Hotel Makkah

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji
BEKALI PETUGAS: Kabag Pengelolaan Hasil Pengawasan dan Pengaduan Masyarakat Itjen Kemenhaj Khalilurrahman menekankan kompetensi yang wajib melekat pada Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Foto: media center haji 
0 Komentar

Salah satu titik kritis adalah penentuan miqat. Untuk jamaah gelombang pertama yang masuk lewat Madinah, miqat diambil di Bir Ali atau Masjid Dzulhulaifah setelah jamaah tinggal sekitar 8–9 hari di Madinah. Adapun gelombang kedua yang mendarat di Jeddah akan mengambil miqat di Bandara King Abdul Aziz (KAIA), Jeddah.

Khalilurrahman menegaskan bahwa miqat di Jeddah dinyatakan sah oleh para ulama dan dinilai lebih praktis karena mengurangi tekanan jamaah yang harus berniat ihram ketika pesawat melaju cepat—situasi yang sering memicu kepanikan, kekeliruan, atau tertinggal rombongan.

“Ulama sudah sepakat bahwa miqat di Jeddah sah. Ini memudahkan agar jemaah tidak terburu-buru melakukan niat ihram di atas pesawat yang bergerak sangat cepat,” jelasnya.

Baca Juga:Baru 96 Desa Digital, Pemkab Cirebon Kejar Target 414 Desa Bestatus Smart Village di 2029Film Penerbangan Terakhir Ungkap Skandal Dunia Penerbangan

Di Makkah, tantangan lain yang berulang setiap tahun adalah jamaah tersesat, terpisah, atau salah kembali ke hotel karena kepadatan kawasan dan kemiripan rute. Untuk mencegahnya, PPIH membagi wilayah layanan Makkah menjadi 11 sektor, ditambah 1 sektor khusus Masjidilharam.

Sebaran hotel jamaah Indonesia dikelompokkan sebagai berikut: sektor 1–3 di Syisyah, sektor 4–5 di Raudhah, sektor 6–8 di Jarwal, dan sektor 9–11 di Misfalah. Pemetaan ini menjadi “bahasa kerja” petugas di lapangan, sehingga penanganan jemaah tidak dilakukan secara coba-coba, melainkan berbasis sistem.

Khalilurrahman menegaskan, standar layanan petugas bukan berhenti pada memberi arahan. Dalam kasus jamaah tersesat, petugas harus memastikan jamaah benar-benar sampai ke tujuan. Bahkan, ketika jamaah kebingungan saat tawaf—misalnya lupa jumlah putaran—petugas dituntut mampu mendampingi hingga ibadah kembali tertib dan jamaah tidak panik.

“Jika ada jamaah tersesat, tugas petugas bukan hanya bertanya, tapi memastikan mereka sampai ke hotel atau bahkan membantu menyelesaikan tawafnya jika mereka lupa jumlah putaran,” tuturnya.

Menjelang puncak haji, skema penugasan petugas juga disusun lebih taktis dengan pembagian dalam tiga satuan tugas. Petugas yang semula bertugas di Daker Bandara akan digeser ke Arafah mulai 7 Zulhijjah. Petugas Daker Madinah dialihkan untuk memperkuat layanan di Mina, termasuk memastikan kesiapan tenda, pendingin (AC), dan konsumsi.

0 Komentar