Program Cisco Networking Academy sendiri dirancang untuk membuka akses seluas-luasnya pada materi teknologi berstandar internasional. Materi yang dipelajari di Indonesia sama dengan yang dipelajari di negara lain. Hal ini menumbuhkan kepercayaan diri. Sekaligus meningkatkan daya saing global lulusan.
Meski belum dilakukan pelacakan menyeluruh, Cisco mencatat dampak positif dari program ini. Berdasarkan survei internal, hampir 90 persen lulusan merasakan manfaat langsung. Mulai dari lebih cepat mendapatkan pekerjaan hingga lebih siap melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Pengetahuan yang terstruktur dan berstandar global membuat lulusan tidak gamang. Mereka lebih percaya diri. Lebih siap beradaptasi. Termasuk saat menghadapi seleksi kerja atau studi lanjutan.
Baca Juga:Baru 96 Desa Digital, Pemkab Cirebon Kejar Target 414 Desa Bestatus Smart Village di 2029Film Penerbangan Terakhir Ungkap Skandal Dunia Penerbangan
Tantangan tetap ada. Terutama saat lulusan pertama kali masuk industri. Banyak yang terbiasa dengan simulasi. Belum bersentuhan langsung dengan perangkat asli. Namun tantangan ini bersifat sementara. Setelah berhadapan langsung dengan perangkat dan melakukan konfigurasi, adaptasi berlangsung cepat.
Dalam diskusi, juga mengemuka pentingnya peran instruktur. Perkembangan teknologi bergerak sangat cepat. Pengajar tidak bisa berhenti belajar. Cisco merespons hal ini dengan rutin menggelar pembaruan. Mini conference tahunan. Webinar setiap tiga bulan. Semuanya untuk memastikan instruktur selalu update.
Ada catatan kritis bagi dunia pendidikan. Pengajar tidak boleh merasa sudah paling tahu. Ilmu teknologi terus berubah. Apa yang dipelajari saat kuliah dulu, bisa jadi sudah usang. Pengajar dituntut untuk terus “mengosongkan gelas”. Belajar bersama mahasiswa. Berkembang bersama. Tidak berhenti pada gelar akademik.
Ketua STMIK IKMI Cirebon, Assoc Prof Dr Dadang Sudrajat SSi MKom, menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi kampus. IKMI berkomitmen menjadi pusat pengembangan talenta digital di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan Cisco bukan sekadar kerja sama formal. Tetapi strategi jangka panjang. Kampus ingin memastikan lulusannya relevan dengan kebutuhan industri. Tidak tertinggal oleh perubahan teknologi. Tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga siap secara praktik.
“STMIK IKMI Cirebon terus membuka diri terhadap kolaborasi. Baik dengan industri, pemerintah, maupun institusi pendidikan lain. Kehadiran guru SMK, dosen lintas kampus, dan perwakilan pemerintah dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata ekosistem digital sedang dibangun bersama,” kata Dadang.
