RADARCIREBON.ID- Aktivitas di SMAN 1 Susukan, Kabupaten Cirebon, masih terbatas pasca ambruknya atap bangunan outdoor atau kanopi di area lapangan upacara sekolah. Hingga Kamis (22/1/2026), garis polisi masih terpasang di lokasi kejadian.
Pihak sekolah meniadakan sementara kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Dilakukan secara daring atau online. Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Susukan, Dodi Setia Purnama, mengatakan pembelajaran dialihkan secara daring untuk menjaga kondusivitas selama proses penyelidikan berlangsung.
“Hari ini (kemarin, red) sampai besok (hari ini, red) kegiatan belajar mengajar kami laksanakan secara daring atau online. Kemungkinan mulai Senin pembelajaran bisa kembali normal seperti biasa,” ujar Dodi.
Baca Juga:Truk Tangkir Air Hancur setelah Dihajar KA Menoreh di Dompyong Kulon, Terseret 300 MeterBBWS Pastikan Akhir Januari Dimulai, Anggaran Rp6,8 Miliar Sudah Tersedia
Adapun peristiwa ambruknya atap lapangan upacara tersebut terjadi pada Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 14.45 WIB. Saat itu, sebagian besar siswa sudah pulang dan hanya beberapa yang masih berada di lingkungan sekolah.
“Memang ada satu siswa kelas X E yang tertimpa bangunan. Namun kondisinya hanya mengalami luka ringan. Setelah mendapatkan pemeriksaan medis, siswa tersebut sudah diperbolehkan pulang,” ungkap Kepala SMAN 1 Susukan, Ukendi Andriyana.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa sekitar 15 menit setelah siswa tersebut dibawa ke rumah sakit, suasana sekolah kembali dikejutkan oleh peristiwa lain. Seorang guru Bahasa Inggris, Danal Alam, tiba-tiba jatuh pingsan di depan ruang guru setelah sebelumnya membantu mengevakuasi siswa yang terluka. “Kami sudah berupaya memberikan pertolongan awal, tetapi tidak ada respons. Beliau kemudian dibawa ke RSUD Arjawinangun,” ungkapnya.
Namun setelah mendapatkan penanganan medis, Danal Alam dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa ini kemudian memicu informasi simpang siur di tengah masyarakat yang mengaitkan wafatnya guru tersebut dengan insiden ambruknya atap sekolah.
Ukendi menegaskan, berdasarkan keterangan keluarga, almarhum memiliki riwayat penyakit jantung dan belakangan sering mengeluhkan nyeri di bagian dada. “Perlu kami luruskan, meninggalnya Pak Danal sama sekali tidak disebabkan oleh robohnya atap atau kanopi sekolah. Beliau wafat karena serangan jantung,” tegasnya.
Konfirmasi serupa disampaikan Kapolsek Susukan, Iptu Kaelani. Ia memastikan bahwa tak ada korban jiwa akibat ambruknya bangunan sekolah. “Begitu mendapat laporan, kami langsung mendatangi lokasi dan melakukan pengecekan. Korban akibat ambruknya atap hanya satu siswa dan itu pun mengalami luka ringan,” jelas Kaelani.
