RADARCIREBON.ID – Sebanyak 9 BMUN diungkap Gubernur Jawa Barat (Jabar), Kang Dedi Mulyadi (KDM) memiliki urang ke Bank BJB.
Bahwa total utang BUMN ke Bank BJB mencapai Rp 3,6 triliun dan hanya membayar bunga tanpa mencicil pokok utang.
Karenanya, KDM menyebut bahwa utang BUMN tersebut menjadi beban untuk Bank BJB.
Baca Juga:Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap Delta Force, Operasi Mirip di Film ActionTransJakarta Benchmark Pengembangan BRT Trans Cirebon
“Yang jadi beban bagi Jawa Barat itu BUMN yang minjem duit yang belum bayar. Itu beban, Pak,” kata Dedi Mulyadi dikutip radarcirebon.id Jumat, 23, Januari 2026.
Berikut daftar BUMN yang memiliki utang ke Bank BJB menurut Dedi Mulyadi;
- PT Kimia Farma Rp950 miliar lebih
- PT Wijaya Karya Rp511 miliar
- PT Wijaya Karya Rp278 miliar
- PT Rajawali Nusindo Rp403 miliar lebih
- PT PP Semarang Demak Rp239 miliar
- PT Phapros Rp98 miliar lebih
- PT Perikanan Indonesia Rp96 miliar lebih
- PT Waskita Karya Rp91 miliar lebih
- PT Barata Indonesia Rp89 miliar lebih.
Meski melontarkan kritik keras terhadap piutang yang macet, Dedi memberikan pengecualian terhadap BUMN yang bergerak di sektor lahan seperti PTPN dan Perhutani.
Menurutnya, meskipun kedua lembaga ini tidak memberikan kontribusi fiskal secara langsung (uang tunai), mereka memiliki peran krusial dalam menjaga ekosistem Jawa Barat.
Bahkan, Dedi mengungkapkan bahwa saking terbatasnya kemampuan finansial BUMN perkebunan, Pemprov Jabar harus turun tangan membiayai penanaman teh demi menjaga fungsi lahan.
“Sekarang menanam teh pun dibiayai oleh Pemerintah Provinsi. Karena kepentingannya konservasi,” ujar Dedi.
Langkah pengambilalihan biaya ini dilakukan agar lahan hijau di Jawa Barat tidak beralih fungsi menjadi pemukiman atau disewakan secara ilegal yang berisiko memicu bencana alam seperti longsor.
Baca Juga:KDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir AcehKDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – Jakarta
Bagi Dedi, keberadaan kebun teh dan hutan adalah fondasi ekonomi jangka panjang Jawa Barat, terutama di sektor pariwisata.
Tanpa konservasi yang kuat, ia meyakini daya tarik wilayah seperti Puncak akan hilang dan mematikan industri perhotelan serta jasa lainnya.
“Kalau Jawa Barat tanpa teh, tanpa karet, tanpa perhutanan, Jawa Barat tidak akan pernah ada. Terjadi bencana yang luar biasa, setelah itu enggak akan ada hotel, enggak ada orang datang. Orang ke Puncak enggak ada teh, enggak ada hotel di Puncak,” katanya.
