INDRAMAYU – Usaha ternak ayam petelur terbukti menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, khususnya bagi masyarakat pedesaan.
Hal ini dibuktikan oleh Carnita, peternak ayam petelur asal Desa Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang mampu meraih omzet hingga jutaan rupiah per hari.
Carnita sudah melakukan usahanya tersebut selama lebih dari satu tahun. Menariknya, di balik kesuksesan mengelola peternakan tersebut, Carnita juga menjabat sebagai kepala Desa Sindang.
Baca Juga:Musim Hujan, Warga Diimbau Waspadai Ancaman Ular Masuk RumahCabor Bowling NPCI Indramayu Bidik Tiga Emas di Peparda Jabar 2026
Meski memiliki tanggung jawab besar dalam melayani masyarakat, ia tetap mampu menjalankan usaha ternak ayam petelur tanpa mengganggu tugas utamanya sebagai pimpinan desa.
Carnita mengungkapkan, usaha ternak ayam petelur itu dirintis dengan modal awal sekitar Rp120 juta yang berasal dari tabungan pribadi.
Dana tersebut digunakan untuk pembangunan kandang, pembelian bibit ayam, serta penyediaan pakan selama 40 hari pertama masa pemeliharaan.
Dalam operasional sehari-hari, Carnita dibantu oleh sang istri, sehingga pengelolaan peternakan dapat berjalan optimal.
Usaha ini pun menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup signifikan sekaligus memberi inspirasi bagi warga desa lainnya.
“Alhamdulillah, saat ini jumlah ayam petelur di kandang hampir mencapai 2.000 ekor dan sudah memasuki masa produksi optimal. Sejak pekan lalu, produksi telur per hari sekitar 100 kilogram dengan panen dilakukan satu kali sehari,” ujar Carnita saat ditemui di lokasi peternakannya di kawasan Embung Jangkar, Desa Sindang, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, bertambahnya jumlah ayam berdampak langsung pada peningkatan produksi telur.
Baca Juga:Cegah Abrasi, DPC Gerindra Indramayu Tanam Ribuan Mangrove di Pesisir Desa TanjakanHPI Indramayu Soroti Rencana Pemda Gandeng Swasta Kelola Objek Wisata
Saat ini, hasil panen mendekati satu kuintal per hari. Untuk pemasaran, Carnita masih memprioritaskan penjualan langsung kepada masyarakat sekitar desa.
Langkah ini diambil untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan warga sekaligus menjaga kestabilan harga telur di tingkat lokal.
“Terkait penjualan, kami masih mengutamakan pemasaran ke warga sekitar. Kadang ada tengkulak yang datang, tapi tidak rutin. Penjualan langsung ke konsumen tetap menjadi prioritas,” jelasnya.
Sejalan dengan strategi tersebut, harga telur yang ditawarkan juga disesuaikan dengan kondisi pasar.
Saat ini, telur dijual dengan kisaran harga Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram, meskipun harga pasar bisa mencapai Rp30.000 per kilogram.
