Dari sisi klinis, dr Adetya menjelaskan bahwa superflu pada dasarnya memiliki gejala yang sangat mirip dengan influenza biasa, seperti demam tinggi, batuk, pilek, nyeri otot, dan rasa lemas. Istilah super flu muncul bukan semata karena gejalanya lebih berat, melainkan karena tingkat penularannya yang cepat serta adanya lonjakan kasus di sejumlah wilayah dan negara.
“Penyebabnya tetap dari influenza tipe A, H3N2 subclade K. Virus influenza ini sebenarnya sudah ada, tetapi memang selalu bermutasi setiap musim,” jelasnya.
Menurutnya, hingga saat ini belum ditemukan bukti klinis bahwa superflu menimbulkan gejala yang lebih berat dibanding influenza biasa pada populasi umum. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada kelompok rentan.
Baca Juga:Pohon Besar Roboh Timpa Bangunan SD di Kuningan Akibat Angin KencangSepanjang 2025, Layanan 112 Siaga Katon Tangani 42 Kejadian Darurat di Cirebon
Kelompok tersebut meliputi ibu hamil, anak-anak, lansia, serta pasien dengan penyakit penyerta, seperti kanker, gagal ginjal, penyakit paru kronik, dan diabetes melitus.
“Yang perlu diwaspadai adalah jika sudah muncul sesak napas, terutama pada pasien dari kelompok rentan,” katanya.
Ia menambahkan, angka kunjungan pasien influenza di RSD Gunung Jati sejauh ini juga belum menunjukkan lonjakan signifikan dan masih dalam kondisi terkendali.
Terkait kebijakan nasional, dr Adetya menyebut Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi sejauh ini belum mengeluarkan instruksi khusus, selain meningkatkan kewaspadaan dan promosi kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat sebanyak 62 kasus superflu di Indonesia hingga Desember 2025.
Imbauan yang terus disampaikan kepada masyarakat antara lain menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit paru kronik.
Untuk layanan vaksinasi influenza, RSD Gunung Jati saat ini belum menyediakannya. Namun, pihak rumah sakit membuka kemungkinan untuk mengupayakan layanan tersebut ke depan sesuai kebutuhan dan kebijakan.
Faktor cuaca juga dinilai berpengaruh terhadap meningkatnya risiko influenza. Memasuki masa pancaroba dan musim hujan, daya tahan tubuh masyarakat cenderung menurun sehingga lebih rentan terserang infeksi saluran pernapasan.
Baca Juga:Hindari Kawasan Senayan Saat Banjir, Awas Kendaraan MogokATR/BPN Cabut SHGU Sugar Group di Lampung, Lahan 85 Ribu Hektare Berdiri di Atas Tanah Negara
“Cuaca seperti sekarang tentu berpengaruh. Daya tahan tubuh bisa menurun dan risiko flu meningkat,” ujarnya.
