Terkait diagnosis superflu, dr Adetya menjelaskan bahwa pemeriksaan harus dilakukan dengan metode PCR. RSD Gunung Jati sudah memiliki mesin PCR, namun belum dilengkapi reagen khusus untuk pemeriksaan Influenza A H3N2 subclade K. Karena itu, jika diperlukan pemeriksaan lanjutan, sampel harus dirujuk ke laboratorium yang lebih lengkap.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Cirebon menyatakan kasus influenza dan ISPA masih mendominasi laporan penyakit di Puskesmas. Data EPUS per Januari 2026 menempatkan ISPA sebagai penyakit terbanyak, disusul flu dan radang tenggorokan.
Meski demikian, Dinkes Kota Cirebon belum dapat memastikan apakah peningkatan kasus flu tersebut berkaitan dengan superflu. Pemeriksaan Influenza A H3N2 subclade K masih harus dilakukan di laboratorium tier 3 di tingkat provinsi karena keterbatasan reagen di daerah.
Baca Juga:Pohon Besar Roboh Timpa Bangunan SD di Kuningan Akibat Angin KencangSepanjang 2025, Layanan 112 Siaga Katon Tangani 42 Kejadian Darurat di Cirebon
“Kalau melihat datanya, memang infeksi saluran pernapasan atas, termasuk flu, masih masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di Puskesmas,” ujar Kepala Dinkes Kota Cirebon, dr Siti Maria Listiawaty. (ade)
