Dulu Nganggur, Dari MBG Kini Punya Gaji 

Dari MBG Kini Punya Gaji 
PUNYA PENGHASILAN TETAP: Kassandra (kanan) dan Yosep Fucari Naibaho saat berbincang dengan Radar Cirebon, Jumat (23/1/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), hidup sebagian orang berbalik arah. Yang dulu menganggur kini punya pekerjaan. Dulu pas-pasan, sekarang berpenghasilan tetap. Di balik panci dan food tray, ada cerita tentang kerja, martabat, dan harapan.

Pagi belum sepenuhnya terang ketika roda mobil boks itu bergerak pelan dari dapur MBG Kesambi Baru Kota Cirebon. Jam baru menunjukkan pukul enam. Tapi bagi sebagian orang, inilah jam dimulainya hidup.

Di balik pintu dapur yang sibuk sejak dini hari itu, bukan hanya makanan bergizi yang diproduksi. Ada cerita tentang pekerjaan. Tentang penghasilan. Tentang martabat yang pelan-pelan kembali ditegakkan. Kassandra dan Yosep Fucari Naibaho adalah dua di antaranya. Dulu hidup mereka berjalan di tempat. Sekarang, justru melaju.

Baca Juga:Peristiwa LGBT Ciuman di THM Cirebon, Asyrof: Regulas Harus Tegas dan Penguatan Budaya LokalKantor Disnakert Kota Cirebon Ambruk, Untungnya Terjadi Malam Hari

Kassandra, 45 tahun, warga asli Kesambi Baru, Kota Cirebon, tak perlu naik kendaraan untuk berangkat kerja. Rumahnya persis di seberang dapur MBG. Jalan kaki. Beberapa langkah saja. Tapi perubahan hidup yang ia rasakan, jaraknya jauh.

Ia sudah lama berkutat di dunia catering. Dua puluh lima tahun. Pengalaman panjang. Namun hidup tetap pas-pasan. Gaji datang sebulan sekali. Jumlahnya terbatas. Kadang cukup, sering kali tidak. Ketika dapur lama tempatnya bekerja disewa untuk program MBG, hidup Kassandra ikut bergeser. Ia dan karyawan lain tak lagi berada di catering lama. Mereka berpindah. Masuk ke MBG.

Awalnya ia ditempatkan di bagian penyusunan food tray. Mengelotoki plastik wadah makanan. Pekerjaan teknis. Lalu tiba-tiba ia diminta menjadi sopir distribusi.

Bukan masak. Nyupir. Seharian di jalan. Mengantar makanan. Mengambil kembali wadah. Pindah dari satu titik ke titik lain. “Alhamdulillah, happy,” katanya kepada Radar Cirebon, Jumat (23/1/2026).

Rutinitasnya dimulai selepas Subuh. Setengah enam pagi ia sudah tiba. Memasukkan food tray ke mobil. Pukul tujuh, distribusi pertama berjalan. Selesai, pulang sebentar. Pukul sembilan, berangkat lagi untuk pengambilan. Lalu pukul sepuluh, kembali mengantar ke sekolah lain. Kadang baru benar-benar selesai pukul setengah tiga sore. “Harusnya jam dua. Tapi kalau pekerjaan belum rampung, ya diselesaikan,” tuturnya.

0 Komentar