Dulu Nganggur, Dari MBG Kini Punya Gaji 

Dari MBG Kini Punya Gaji 
PUNYA PENGHASILAN TETAP: Kassandra (kanan) dan Yosep Fucari Naibaho saat berbincang dengan Radar Cirebon, Jumat (23/1/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Ia tidak menuntut. Yang berubah bukan jam kerja. Tapi rasa aman. Dulu, satu juta lima ratus ribu rupiah harus ditunggu sebulan penuh. Sekarang, jumlah yang sama bisa didapat dalam dua minggu. Dua kali lipat. “Lebih aman,” ujarnya.

Itu kata yang berulang ia pakai. Aman. Aman artinya kebutuhan rumah tangga lebih terjaga. Aman artinya tak terlalu cemas menunggu akhir bulan. Kassandra punya tiga anak. Yang sulung hampir lulus SMA. Ada rencana melanjutkan kuliah. Dulu, itu hanya angan. Sekarang, mulai terasa masuk akal.

Lebih kuat lagi, istrinya juga bekerja di MBG. Bukan di dapur yang sama. Tapi sama-sama di program ini. Istrinya bertugas malam hari, sebagai koordinator masak. Pembagian peran itu membuat rumah tetap berjalan. Saat Kassandra bekerja pagi, istrinya ada di rumah menemani anak-anak. Saat malam, giliran ia menjaga rumah. Dua-duanya bekerja. Dua-duanya menghidupi. “Kebutuhan yang tadinya susah, sekarang tercukupi. Sangat terbantu. Sangat,” jelas dia.

Baca Juga:Peristiwa LGBT Ciuman di THM Cirebon, Asyrof: Regulas Harus Tegas dan Penguatan Budaya LokalKantor Disnakert Kota Cirebon Ambruk, Untungnya Terjadi Malam Hari

Cerita Yosep Fucari Naibaho bahkan lebih sunyi. Pria 47 tahun itu tinggal di Pengampon, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Asalnya dari Medan. Menikah tahun 2002. Sejak itu, hampir tak pernah memiliki pekerjaan tetap. Ia dikenal sebagai aktivis gereja. Setiap hari melayani. Terlibat di lebih dari sepuluh komunitas. Hidupnya diabdikan untuk pelayanan.

Soal penghasilan, hampir tak pernah ia pikirkan serius. Ia percaya pada doa. “Saya berdoa, Tuhan, saya mau bekerja,” katanya, Jumat siang itu.

Dua hari kemudian, telepon masuk. Yang menelpon adalah seseorang dari Yayasan Inspirasi Indah Bersama. Bunda Cici. Anggota dewan. Kader PKS. Menawarkan bergabung sebagai relawan. Yosep sempat bingung. Relawan apa? Dua hari kemudian baru jelas: MBG. Ia Katolik. Yang mengajak dari partai berbasis Islam. Tak ada sekat. Tak ada curiga. Yang ada justru rasa diterima. “Toleransi yang sangat saya senangi,” ujarnya.

Ia merasa panggilan itu bukan kebetulan. Mukjizat, katanya. Sejak Agustus 2025, Yosep mulai bekerja. Datang sebelum jam enam pagi. Fokus pertama ke posyandu. Balita dan ibu hamil jadi prioritas. Setelah itu, baru distribusi ke sekolah-sekolah.

0 Komentar