Ia mengantar makanan. Mengambil kembali wadah. Membawa pulang ke dapur untuk dicuci. Berulang. Setiap hari. Lelah? Pasti. Tapi ada rasa lain yang menutupnya. “Suka cita,” katanya.
Karena ia merasa melayani. Mengantar pangan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Ini pekerjaan pertamanya. Saat gaji pertama diterima, Yosep tak membeli apa-apa untuk dirinya. Ia serahkan semua kepada istrinya. Ia terharu. “Baru waktu itu saya merasa jadi suami seutuhnya,” ucapnya pelan.
Sebelumnya, penghasilan keluarga hanya dari usaha kecil istrinya membuat roti. Sering tidak cukup. Tapi Yosep memilih percaya. Mengandalkan doa. Sekarang, satu rumah hanya ia yang bekerja. Tapi satu rumah pula yang merasakan manfaat.
Baca Juga:Peristiwa LGBT Ciuman di THM Cirebon, Asyrof: Regulas Harus Tegas dan Penguatan Budaya LokalKantor Disnakert Kota Cirebon Ambruk, Untungnya Terjadi Malam Hari
Anaknya satu. Kelas tujuh SMP. Masa depan yang dulu samar, kini lebih terang. Kisah Kassandra dan Yosep hanya dua dari puluhan pekerja dapur MBG Kesambi Baru. Namun potret ini memberi gambaran lebih luas: bukan sekadar makan bergizi gratis. Ia menciptakan ekosistem kerja. Dapur beroperasi hampir 24 jam. Ada koki. Ada ahli gizi. Ada tim distribusi. Ada pencuci wadah. Ada koordinator. Semua digerakkan oleh relawan dan pekerja lokal. Upah memang bukan yang tertinggi. Tapi stabil. Teratur. Dan yang terpenting: pasti.
Dari Kabupaten Kuningan, ada cerita dari Afif Maulana yang dipercaya sebagai Kepala SPPG di Kecamatan Kramatmulya. Ia pun bisa mendapatkan penghasilan yang cukup besar, jauh di atas UMK. Sebagai orang yang dipercaya menjabat Kepala SPPG, Afif mengaku mendapatkan gaji yang cukup besar, mencapai Rp6 juta per bulan.
“Alhamdulillah saya sangat bersyukur karena gaji yang saya terima sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan saya yang masih lajang. Sebulan saya memperoleh gaji Rp6 juta di luar tunjangan Kesehatan,” tutur pria asal Desa Cengal, Kecamaran Japara, itu.
Dia juga mengungkapkan bahwa relawan SPPG juga menerima upah yang sangat layak yang dihitung per hari. Untuk relawan biasa memperoleh Rp100 ribu per hari, juru masak lebih besar, yakni Rp120 ribu karena bertanggung jawab di masakan. “Relawan biasa terima Rp100 ribu, juru masak Rp120 ribu, satpam Rp100 ribu per hari, sopir Rp110 ribu dan kenek Rp100 ribu. Upah ini di SPPG kami, kalau untuk SPPG di tempat lain, kami tidak tahu,” sebut Afif.
