Ekonomi Lokal Hidup Berkat MBG, Ribuan Tenaga Kerja Terserap

Ekonomi Lokal Hidup Berkat MBG
TIAP HARI SIBUK: Aktivitas di SPPG Kesambi Baru, Kota Cirebon, Jumat lalu (23/1/2026). Setiap hari, sekitar 3.000 porsi makanan diproduksi di tempat ini untuk 17 titik layanan: 9 sekolah dan 8 posyandu. Seno Dwi Priyanto/Radar Cirebon
0 Komentar

SPPG Kesambi Baru punya satu ahli gizi. Perannya sentral. Pengawasan berjalan 24 jam. Karena ada mes di area dapur, ahli gizi bisa selalu siap. Makanan yang sudah diporsi masuk ompreng. Ditutup. Diikat rapi. Mobil distribusi sudah menunggu. Setiap mobil punya rak khusus. Satu mobil memuat enam ikatan. Sekitar pukul 06.00 pagi, sopir datang. Makanan dipindahkan. Tidak lama. Distribusi langsung berjalan. Pengiriman juga dua sesi. Pagi dan siang. Semua mengikuti pola dapur. Tidak boleh melenceng.

Dapur ini bukan dapur seadanya. Strukturnya lengkap. Setiap hari ada 47 relawan bekerja. Mereka didukung 1 ahli gizi, 1 akuntan, dan 1 kepala SPPG. Tugas dibagi jelas. Purchasing mengurus pengadaan. Tim persiapan menyiapkan bahan. Tim masak memasak. Quality control mengawasi mutu.

Asisten laboratorium mengecek bahan. Akuntan mencatat semuanya. Bahan yang datang dicek kuantitas dan kualitas. Yang rusak dicatat. Yang kurang dilaporkan. Yang diretur dibuatkan berita acara. Pencatatan dilakukan setiap hari. Tidak boleh longgar. Salah catat, bisa berujung salah rencana.

Baca Juga:Peristiwa LGBT Ciuman di THM Cirebon, Asyrof: Regulas Harus Tegas dan Penguatan Budaya LokalKantor Disnakert Kota Cirebon Ambruk, Untungnya Terjadi Malam Hari

Setiap Jumat sore, seluruh koordinator rapat. Menu dibahas. Gizi dievaluasi. Food waste dihitung. Bahkan selera anak-anak ikut dipertimbangkan. Permintaan pun muncul. Mi instan. Spageti. Pedas. Tapi tidak semua bisa dipenuhi. Standar gizi dan arahan Badan Gizi Nasional jadi pagar.

Angka-angka dapur ini berbicara. Setiap hari dibutuhkan sekitar 150 kilogram daging ayam. Beras mencapai 7–8 karung per hari. Semua untuk satu tujuan: 3.000 porsi makanan bergizi. Bahan baku diprioritaskan dari lokal. Sayur dan buah dari pasar sekitar. Roti dari UMKM lokal. Namun tidak sembarang UMKM bisa masuk. Harus aman pangan. Bersertifikat halal. Memenuhi standar.

Keamanan pangan bukan slogan. Tapi praktik harian. SOP diterapkan dari awal hingga akhir. Briefing dilakukan rutin. Pemantauan berjalan sepanjang waktu. Puskesmas memeriksa dua minggu sekali.

Dinas Kesehatan turun setiap bulan. “Hingga kini, tidak ada laporan makanan basi. Tidak ada keluhan makanan tidak layak,” pungkas Lukman.

Di Kota Cirebon, target 45 SPPG. Data hingga Senin, 26 Januari 2026, sebanyak 31 SPPG telah beroperasi, siap operasional 8 ada unit, serta 6 SPPG dalam tahap persiapan.

0 Komentar