Pemkab Majalengka menilai program MBG membawa dampak positif yang luas, tak hanya aspek kesehatan dan gizi anak, ibu hamil, serta ibu menyusui, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. “Program ini menekan kemiskinan karena melibatkan UMKM sekitar dapur MBG. Perputaran ekonomi di tingkat bawah mulai terasa,” ujar Dena.
Dari sisi penerima manfaat, Dinas Pendidikan (Disdik) Majalengka mencatat bahwa program MBG belum sepenuhnya menjangkau seluruh siswa. Dari sekitar 280 ribu siswa tingkat SD hingga SMP berdasarkan data Dapodik, sekitar 80 persen yang telah menerima MBG secara rutin.
Umar menyebutkan distribusi MBG relatif merata di hampir seluruh kecamatan. Namun, terdapat satu wilayah yang hingga kini belum terjangkau, yakni Desa Cipulus, Kecamatan Cikijing, yang tergolong daerah terpencil. “Nanti akan ada dapur khusus untuk desa terpencil. Saat ini memang belum ada pembangunan di sana,” katanya.
Baca Juga:Peristiwa LGBT Ciuman di THM Cirebon, Asyrof: Regulas Harus Tegas dan Penguatan Budaya LokalKantor Disnakert Kota Cirebon Ambruk, Untungnya Terjadi Malam Hari
Sementara di Kabupaten Indramayu, SPPG sejauh ini masih fokus pada siswa tingkat TK, SD, SMP, dan SMA.
Seperti dikatakan Koordinator SPPG Kabupaten Indramayu, Ayu Nabila. Untuk jumlah penerima, Ayu mengungkapkan masih pada proses pendataan. Tapi berdasarkan data yang masuk pada pengisian akun Badan Gizi Nasional (BGN) di Kabupaten Indramayu terdapat 474.583 orang, terdiri dari siswa dan tenaga pendidik TK, SD, SMP, dan SMA.
Pihaknya mengakui MBG di Indramayu belum menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. “Paling menunggu SPPG baru agar ada peralihan penerima manfaat sehingga kategori B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD, red) bisa masuk,” ujarnya. (ags/bae/oni)
