RADARCIREBON.ID- Jaring penghalau sampah membentang di hilir Sungai Sukalila–Sungai Kalibaru. Letaknya dekat jembatan, menjadi titik terakhir sebelum air sungai mengalir ke laut. Di bawah rangka besi tua yang berkarat, jaring berpelampung pipa plastik tampak melengkung mengikuti arus. Sampah menumpuk padat.
Sampah yang menumpuk itu beram. Plastik sekali pakai, botol minuman, styrofoam, ranting kayu, hingga sisa kemasan rumah tangga. Di beberapa bagian, tumpukan itu membentuk pulau kecil yang hampir menutup setengah alur sungai.
Air berwarna hijau kecokelatan mengalir pelan. Di sisi kanan, bantaran sungai ditumbuhi rumput liar dan semak. Di sisi kiri, bekas penertiban bangunan masih menyisakan tanah basah dan puing. Hujan yang turun pada Rabu (28/1/2026), membuat permukaan air sedikit naik, mendorong sampah makin menekan jaring dari hulu.
Baca Juga:Ekonomi Lokal Hidup Berkat MBG, Ribuan Tenaga Kerja TerserapDulu Nganggur, Dari MBG Kini Punya Gaji
Jaring itu bukan baru. Sudah sekitar satu bulan terpasang. Namun hingga kini, belum pernah sekalipun dibersihkan. Ketua RT/RW 2/1 Kejaksan, Taufik Budiarjo, menyebut pemasangan jaring sejatinya langkah tepat untuk mengendalikan sampah di hilir Sungai Sukalila–Kalibaru. Dengan satu titik penghalang, sampah dari dua aliran sungai seharusnya bisa terkumpul dan mudah diangkut.
Masalahnya, jaring yang dipasang hanya satu lapis. Beban sampah yang terus datang membuat fungsinya tidak maksimal. Bahkan, dari pantauan langsung di lapangan, beberapa bagian jaring terlihat mulai kendur dan tertekan ke arah hilir. Di ujungnya, ikatan jaring tampak tidak lagi tegang. Risiko jebol terbuka lebar.
Taufik menilai sejak awal jaring semestinya dipasang ganda. Dua lapis penghalang akan membagi beban, sekaligus memberi waktu bagi petugas untuk melakukan pembersihan tanpa khawatir sampah lolos ke laut.
Persoalan paling krusial justru ada pada perawatan. Selama satu bulan terakhir, tidak ada aktivitas pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup. Sampah dibiarkan menumpuk, menekan jaring, dan memperlambat aliran air. “Pemasangan jaring sampah ini sudah sekitar satu bulan, tapi sampai hari ini (tumpukan sampah) belum pernah diambil sama sekali,” kata Taufik kepada Radar Cirebon, kemarin (28/1/2026).
Di sekitar lokasi, tidak terlihat tanda-tanda penanganan rutin. Tidak ada alat berat pengangkut sampah, tidak ada petugas penyisir sungai. Yang tampak justru jaring penuh, air tertahan, dan sampah terus datang dari hulu.
