Taufik menduga, jaring sengaja dibiarkan penuh karena saat ini masih berlangsung pengerukan sungai di beberapa titik lain. Logikanya, lumpur dan kotoran dari hulu diarahkan agar terkonsentrasi di hilir. Namun tanpa jadwal pembersihan yang jelas, strategi ini justru berpotensi menciptakan masalah baru.
Sampah yang menumpuk terlalu lama tidak hanya membebani jaring, tetapi juga meningkatkan risiko penyumbatan alur sungai, terutama saat debit air naik. Jika jaring jebol, seluruh sampah akan hanyut sekaligus, dan dampaknya bisa lebih parah.
Hingga kini, belum ada inisiatif dari warga sekitar untuk membersihkan jaring. Selain faktor keselamatan, masyarakat menilai pengelolaan sampah sungai merupakan kewenangan pemerintah. Terlebih, jaring ini merupakan fasilitas resmi yang dipasang oleh instansi terkait.
Baca Juga:Ekonomi Lokal Hidup Berkat MBG, Ribuan Tenaga Kerja TerserapDulu Nganggur, Dari MBG Kini Punya Gaji
Secara konsep, jaring penghalau sampah di hilir dinilai efektif. Semua sampah terkonsentrasi di satu titik, mudah diangkut dan tidak menyebar ke permukiman lain. Namun efektivitas itu hanya akan tercapai jika dibarengi pembersihan rutin dan penguatan konstruksi.
Di lokasi lain, alur sungai terlihat lebih bersih setelah pengerukan. Air mengalir lebih lapang. Vegetasi di tepi sungai masih dipertahankan. Tapi di titik hilir ini, jaring penuh menjadi simbol pekerjaan yang belum tuntas.
Taufik menyatakan akan mengajukan permohonan ke Dinas Lingkungan Hidup agar jaring diperkuat dan ditambah. Harapannya, pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada pemasangan alat, tetapi juga diikuti dengan sistem pembersihan yang jelas dan terjadwal.
Jaring penghalau sampah seharusnya menjadi garda terakhir pengendalian sungai. Bukan sekadar formalitas proyek. Ketika dibiarkan penuh selama sebulan, jaring itu berubah fungsi: dari solusi, menjadi alarm yang terus berbunyi.
Di tengah ambisi menjadikan Sungai Sukalila–Kalibaru ikon baru Kota Cirebon, kondisi hilir sungai hari ini mengirim pesan tegas. Penataan sungai bukan hanya soal membongkar dan membangun. Tapi soal merawat. Setiap hari. Tanpa jeda. (*)
