BGN Siapkan Evaluasi: Uji Otak hingga Postur Siswa Penerima MBG 

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana
EVALUASI: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan pihaknya telah menyiapkan serangkaian indikator komprehensif untuk mengukur efektivitas program MBG. FOTO: Hasyim ashari/disway.id
0 Komentar

RADARCIREBON.ID –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai salah satu proyek unggulan Presiden Prabowo Subianto tidak akan dibiarkan berjalan tanpa ukuran keberhasilan yang jelas.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan, program bernilai triliunan rupiah ini akan dievaluasi secara ketat—bukan hanya dari sisi penyerapan anggaran, tetapi dari dampak nyata pada tubuh dan kecerdasan penerima manfaat.

BGN telah menyiapkan serangkaian indikator komprehensif untuk mengukur efektivitas program MBG. Evaluasi tersebut mencakup perubahan berat badan, tinggi badan, hingga perkembangan kapasitas kognitif siswa yang menerima manfaat program.

Baca Juga:Soroti BOP Fantastis, Pimpinan DPRD Kuningan Sepakat Panggil Direktur PDAMPemkot Cirebon Raih UHC Awards 2026

Dadan mengungkapkan, penilaian menyeluruh baru akan dilakukan setelah program berjalan selama satu tahun penuh. Ia menekankan bahwa indikator keberhasilan tidak bersifat simbolik, melainkan berbasis data ilmiah yang terukur.

“Berat badan, tinggi badan, sampai kapasitas otak itu menjadi bagian dari output yang harus diukur. Dan yang melakukan pengukuran nanti harus lembaga independen,” ujar Dadan saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kamis (29/1/2026).

Ambisi besar BGN dalam program MBG tidak lepas dari pengalaman negara lain. Dadan mencontohkan Jepang sebagai negara yang berhasil membuktikan bahwa intervensi gizi sejak usia sekolah mampu mengubah kualitas sumber daya manusia secara signifikan.

Ia menyebut data historis menunjukkan lonjakan rata-rata tinggi badan masyarakat Jepang antara generasi 1940-an dan generasi 2000-an. Perubahan tersebut, menurutnya, bukan kebetulan, melainkan hasil kebijakan gizi yang konsisten dan berkelanjutan.

“Peningkatan itu terjadi karena kualitas gizi yang membaik. Jadi bukan hanya soal genetik, tapi intervensi yang tepat. Indonesia ingin bergerak ke arah sana,” tegas Dadan.(dsw)

0 Komentar