Sejak Kapan Pemimpin adalah Raja?

Ilustrasi
Ilustrasi. Foto: Istimewa.
0 Komentar

MAKNA sebuah kata memang memiliki kecenderungan untuk dapat bergeser bahkan berubah. Pergeseran dan perubahannya dapat terjadi secara pelan dan halus, kadang drastis dan memekakkan. Sayangnya, kita sebagai pengguna bahasa dan subjek dalam ragam interaksi sosial tidak selalu menyadari itu. Tiba-tiba, kata yang dulu secara ajek merujuk pada referensi makna tertentu, kini justru digunakan untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.

Lebih aneh lagi, kita justru larut dalam ketidaksadaran itu, seolah semua berjalan wajar. Padahal, di sana telah terjadi pembajakan dan penyelewengan makna. Dalam konteks kehidupan sosial-politik, kata “pemimpin” tampaknya mengalami pergeseran itu. “Pemimpin”, sebagai kata, dipakai, dikutip, dan ditampilkan melalu pusparagam cara.

Namun, satu yang pasti bahwa kata tersebut mulai diselubungi oleh aura kekuasaan yang serupa dengan makna “raja” dalam tradisi feodal; dihormati tanpa jarak, dikawal dengan ritual, dan dikelilingi simbol-simbol kebesaran. “Pemimpin” tidak lagi hanya merujuk pada ragam referensi makna yang memiliki makna dengan nuansa yang sama, yaitu pelayan rakyat, pengelola kepercayaan publik, atau pengarah kebijakan. Fenomena ini bukan sekadar soal gaya kepemimpinan, tetapi menyingkap sebuah gejala linguistik, yakni bagaimana makna kata bisa bergeser mengikuti kuasa wacana dan struktur budaya tempat ia hidup.

DIFERENSIASI TAKHTA DAN MANDAT

Baca Juga:Aparatur Sipil Negara dan KeugaharianToto Suharto Dorong Kemajuan UMKM Desa lewat Sosialisasi Perda Ekraf

Mungkin tidak layak untuk selalu diingatkan bahwa, dalam negara yang mengusung demokrasi, pemimpin adalah hasil dari mandat. Namun, tidak ada salahnya untuk senantiasa diucapkan bahwa pemimpin tidak datang dari wahyu langit dan tidak juga dipilih berdasarkan trah atau garis darah.

Pemimpin datang dari kesepakatan politik lalu dilegitimasi oleh suara elektoral yang percaya bahwa orang itu mampu mengemban tugas. Oleh sebab itu, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa jabatan seorang pemimpin bersifat sementara, kontraktual, dan sangat tergantung pada kinerjanya.

Berbeda dengan raja. Raja tidak dipilih. Raja lahir dari sebuah struktur yang meyakini bahwa darah seseorang mengandung kekuasaan. Dalam kosmologi kekuasaan Jawa, misalnya, seperti yang ditulis oleh Suyanto, Isbodroini, dan Gunawan (2005), raja adalah poros jagat, titik temu antara langit dan bumi. Pada akhirnya, raja diyakini sebagai satu-satunya manusia yang mampu menyerap energi kosmis dari alam semesta.

0 Komentar