Sejak Kapan Pemimpin adalah Raja?

Ilustrasi
Ilustrasi. Foto: Istimewa.
0 Komentar

Warisan feodalisme semacam itu, hari ini, juga sering diperkuat oleh politisasi bahasa. Pemimpin seringkali digambarkan sebagai figur agung, pelindung rakyat, bahkan kadang dilengkapi dengan narasi mesianistik, semisal “hanya dia yang membawa perubahan”. Kalau kita mau berkenan duduk dan melihatnya secara lebih kritis, narasi dan deskripsi semacam itu justru lebih mirip dengan sosok raja daripada sosok manajer publik.

Strategi semacam ini, dalam kerangka ciritical discourse analysis ala Fairclough dan van Dijk, menampilkan praktik bahasa kekuasaan menciptakan realitas kekuasaan.

Pada akhirnya, kita tidak dapat membantah bahwa pemimpin hari ini masih dilihat dan diperlakukan layaknya penguasa, bukan pelayan publik. Pada mereka yang hari ini menjadi pemimpin, bisa jadi kita merasa enggan mengkritik dan merasa segan berdebat.

Baca Juga:Aparatur Sipil Negara dan KeugaharianToto Suharto Dorong Kemajuan UMKM Desa lewat Sosialisasi Perda Ekraf

Mengapa? Dalam sudut pandang pragmatik, hal ini disebabkan oleh adanya inflasi makna dari “pemimpin”, yang awalnya adalah sosok pemberi arah, kini menjadi pemilik arah. Ini paralel dengan konsep sacred leadership dalam kajian antropologi kekuasaan.

DUNIA YANG DILIPAT

Inflasi makna pada kata “pemimpin” yang menyebabkannya tidak memiliki batas makna dengan “raja” tampak sejalan dengan gagasan “dunia yang dilipat” dari Prof Yasraf Amir Piliang (Guru Besar pada Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung).

Beliau meyakini bahwa dunia pascamodern adalah dunia yang tidak lagi mampu membedakan secara tegas antara realitas dan citra. Realitas dilipat, dipadatkan, dibentuk ulang melalui simbol, media, dan narasi. Dalam dunia semacam itu, yang tampak bukan lagi yang sejati, melainkan yang diciptakan untuk terlihat.

Dari sini, bisa saja seorang pemimpin gagal secara kinerja tetapi tetap sukses secara citra. Seorang pemimpin bisa saja tidak menyelesaikan tugasnya, tetapi tetap dielu-elukan karena keahlian komunikasi publiknya. “Dunia yang dilipat” mampu menciptakan sosok pemimpin bukan dari apa yang dia kerjakan, tetapi dari bagaimana dia diceritakan.

Dalam “dunia yang dilipat”, pemimpin jelas seorang raja simbolik. Pemimpin dapat tampil meyakinkan, agung, dan tidak tersentuh, bahkan tidak perlu membuktikan kapasitasnya secara konkret. Pada titik ini, kita tidak lagi menjadi subjek politik, melainkan konsumen tontonan citra politik. Kita tidak pernah benar-benar menilai pemimpin berdasarkan kinerja, tetapi berdasarkan narasi yang terus-menerus dibentuk oleh dirinya ataupun oleh berbagai pihak. Inilah titik yang menunjukkan kita sedang tersesat dalam pencarian makna di “dunia yang dilipat”.

0 Komentar