RADARCIREBON.ID – Proses normalisasi Sungai Sukalila di Kota Cirebon yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung terus berjalan meski menghadapi sejumlah kendala teknis. Pengerukan sungai di kawasan perkotaan dinilai memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan.
Meski demikian, proyek normalisasi ini mendapat waktu pengerjaan yang cukup panjang hingga April 2026, sehingga pelaksanaan pekerjaan tetap dapat dilakukan secara bertahap.
Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, mengatakan saat ini pihaknya masih memfokuskan pekerjaan pada ruas prioritas pertama, yakni Kalibaru. Selanjutnya, pengerjaan akan dilanjutkan ke ruas Sungai Sukalila dan muara Sukalila dengan target penyelesaian pada April 2026.
Baca Juga:Kolaborasi dengan DPRD Provinsi Jabar, BK DPRD Cirebon Kaji Penerapan BK AwardRumah Ludes Terbakar di Suranenggala, Api Diduga dari Tungku Dapur
“Selama delapan hari pelaksanaan normalisasi, kami menemukan beberapa kendala di lapangan. Salah satu yang utama adalah keterbatasan manuver alat berat jenis long arm akibat masih banyaknya kabel listrik yang melintang di atas sungai,” ujar Dwi Agus.
Menurutnya, kondisi tersebut membatasi ruang gerak alat berat, meski pekerjaan tetap berjalan. Pihak BBWS juga telah menyampaikan permasalahan ini kepada Pemerintah Kota Cirebon agar ke depan dilakukan penataan jaringan listrik di kawasan sempadan sungai.
“Harapannya, ke depan tidak ada lagi jaringan listrik di sempadan sungai, melainkan dipindahkan ke sisi seberangnya. Dengan begitu, kegiatan normalisasi dan pemeliharaan sungai tidak lagi terganggu,” tambahnya.
Selain kendala jaringan listrik, mobilitas di kawasan perkotaan juga menjadi tantangan tersendiri. Material hasil pengerukan tidak dapat dimanfaatkan sebagai tanggul tanah karena menimbulkan bau tidak sedap, sehingga harus dipindahkan ke lokasi lain.
“Kalau di pedesaan, material pengerukan bisa langsung dijadikan tanggul. Namun di Sungai Sukalila tidak memungkinkan, sehingga harus diangkut. Sementara armada yang tersedia saat ini baru tiga truk,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Dwi Agus menegaskan bahwa pekerjaan masih berjalan sesuai rencana dan target penyelesaian pada April 2026 dinilai realistis tanpa perlu penambahan alat berat dalam waktu dekat.
“Kalau targetnya April, masih cukup. Kecuali kalau targetnya satu bulan, tentu perlu penambahan alat,” katanya.
