RADARCIREBON.ID- Kemampuan pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon mengangkut sampah masih terbatas. Kondisi ini mencerminkan persoalan sampah bukan persoalan sederhana. Per hari di Kabupaten Cirebon, volume sampah mencapai 1.200 ton.
Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon Fitroh Suharyono SSos membenarkan hal itu. Kata Fitroh, Kabupaten Cirebon menghasilkan sekitar 1.200 ton sampah setiap hari. Jumlah itu setara dengan 0,5 kilogram sampah per orang per hari, jika mengacu pada total penduduk sebanyak 2,4 juta jiwa.
“Sampah itu berasal dari seluruh lapisan masyarakat. Dari mulai anak-anak hingga lansia. Bahkan popok bayi pun masuk dalam kategori sampah rumah tangga,” ujar Fitroh kepada Radar Cirebon, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga:MBG Pertama Kali di SMPN 1 Kota Cirebon, Pertama untuk Siswa, Juga Guru dan Staf SekolahPrabowo Subianto Sebut Hampir Seluruh TPA di Indonesia Kolaps 2028
Setiap hari, kata Fitroh, pengangkutan sampah dibagi menjadi dua wilayah. Yakni di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Kubangdeleg, Kecamatan Karangwareng, dan di TPAS Gunungantri, Kecamatan Palimanan. “Untuk wilayah timur seluruh sampah diangkut ke TPA Kubangdeleg di luas lahan sekitar 5 hektare. Sementara wilayah barat masih mengandalkan TPA Gunungsantri seluas 2,5 hektare,” ungkapnya.
Namun, lanjut Fitroh, volume sampah yang mampu diangkut setiap hari baru mencapai sekitar 450 ton. “Artinya, masihh ada sisa sampah yang belum terangkut. Sebagian ada yang tercecer dan sebagian lainnya dikelola secara mandiri oleh desa-desa,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Cirebon Dede Sudiono ST MSi menegaskan bahwa persoalan sampah bukanlah urusan sederhana. Selain volume yang besar, persoalan klasik yang terus membelit adalah keterbatasan anggaran. “Masalahnya bukan hanya jumlah sampah, tapi sarana dan prasarana yang belum memadai,” tegasnya.
Saat ini, DLH hanya memiliki 65 armada dump truck pengangkut sampah. Padahal, idealnya dibutuhkan 120 armada untuk menjangkau seluruh wilayah pelayanan. Artinya, sambung Dede, masih terdapat kekurangan 55 dump truck.
Masalahnya, satu unit armada dump truck pengangkut sampah harganya diperkirakan mencapai Rp700 juta. Jika dikalikan 55 armada, kebutuhan anggaran mencapai Rp38,5 miliar. Itu yang sulit diwujudkan di tengah keterbatasan APBD. “Anggarannya cukup besar. Dibiayai dari APBD tidak akan mungkin,” paparnya.
Masih kata Dede, kondisi serupa juga terjadi pada ketersediaan kontainer sampah. Saat ini, DLH baru memiliki sekitar 450 kontainer, sementara kebutuhan ideal mencapai 600 unit. Kekurangan 150 kontainer tersebut setara dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp8,25 miliar, dengan harga satu kontainer sekitar Rp55 juta.
