Sirene Meraung, Ratusan Siswa di SMAN 3 Kota Cirebon Bergerak Tanpa Panik 

tanggap darurat bencana
BERLINDUNG DI BAWAH MEJA: Siswa SMAN 3 Kota Cirebon mengikuti simulasi kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana, Selasa (3/2/2026). FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Suara sirene memecah pagi yang tenang di SMAN 3 Kota Cirebon. Nadanya panjang dan melengking, cukup untuk membuat siapa pun tersentak. Namun di sekolah itu, Selasa (3/2/2026), tak ada jerit panik. Yang terjadi justru sebaliknya: ratusan siswa bergerak cepat, teratur, dan terlatih.

DI dalam kelas, kursi berderak. Buku dan botol minum tertinggal di atas meja. Dalam hitungan detik, siswa sudah tiarap, berlindung di bawah meja belajar. Beberapa memeluk lutut, sebagian menutup kepala dengan tas. Instruksi guru terdengar tegas, menembus ketegangan yang menggantung di udara.

Ini bukan bencana sungguhan. Ini latihan. Namun suasananya dibuat sedekat mungkin dengan kondisi nyata.

Baca Juga:Kolaborasi dengan DPRD Provinsi Jabar, BK DPRD Cirebon Kaji Penerapan BK AwardRumah Ludes Terbakar di Suranenggala, Api Diduga dari Tungku Dapur

Simulasi kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana digelar SMAN 3 sebagai bagian dari upaya membangun sekolah tangguh bencana.

Seluruh sivitas akademika terlibat, siswa, guru, hingga kepala sekolah berada dalam satu skenario yang sama: menghadapi gempa bumi dan kemungkinan bencana lain yang datang tanpa aba-aba.

Begitu sirene kedua berbunyi, pintu-pintu kelas terbuka. Arus siswa mengalir ke lorong-lorong sekolah. Dari lantai atas, mereka menuruni tangga dengan langkah cepat namun tertib. Tidak saling mendahului. Tidak berteriak. Ransel di punggung atau di atas kepala menjadi pelindung seadanya.

Di pelataran depan sekolah, titik evakuasi menjadi tujuan akhir. Siswa berkumpul, saling menghitung, memastikan semua selamat. Guru-guru menyisir barisan, mencocokkan jumlah, memastikan tidak ada yang tertinggal di ruang kelas atau lorong.

Kepala SMAN 3 Kota Cirebon, Dr Yeni Nuriyani SPd MPdI menyebut simulasi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan latihan membangun refleks dan ketenangan menghadapi kondisi darurat yang sesungguhnya.

“Bencana tidak bisa diprediksi. Tapi kepanikan bisa dilatih untuk dikendalikan. Kami ingin setiap warga sekolah tahu apa yang harus dilakukan ketika bahaya datang,” ujarnya.

Menurut Yeni, kesiapsiagaan tidak hanya menyangkut gempa bumi. Sekolah juga mempersiapkan diri menghadapi potensi banjir, angin puting beliung, hingga dampak perubahan lingkungan. Karena itu, latihan melibatkan semua unsur sekolah, tanpa pengecualian.

Baca Juga:Gedung Ambruk, Pelayanan Disnaker Tetap BerjalanPara Pemeran Utama Sapa Penonton Film Kafir: Gerbang Sukma 

Di titik evakuasi, simulasi berlanjut. Guru mengevaluasi jalur evakuasi, kapasitas titik kumpul, hingga kecepatan respons siswa. Fasilitas diuji, bukan hanya teori di atas kertas.

0 Komentar